Mau'idhoh

Dari 'Abdulloh bin 'Abbas rodliyallohu 'anhumaa, bahwasanya Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa 'alaa aalihi wa sallam bersabda,

"Jagalah Alloh, Alloh akan menjagamu. Jagalah Alloh, engkau akan mendapatkan-Nya di hadapanmu.

Jika engkau meminta, memintalah kepada Alloh. Dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Alloh.

Ketahuilah, jika seluruh umat bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali dengan apa yang telah Alloh taqdirkan bagimu. Dan jika seluruh umat bersatu untuk memberikan mudhorot kepadamu, niscaya mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali dengan apa yang telah Alloh taqdirkan atasmu. Pena telah diangkat dan catatan telah kerin
g."

(HR. Tirmidzi, dia berkata "Hadits hasan shohih")

23 Mei 2008

FILE 58 : Dialog Singkat Seputar Pemahaman terhadap Islam

Bismillahirrohmanirrohim

Walhamdulillah, wash-sholaatu wassalamu 'ala Rosulillah Shollallohu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam

Wa ba'du

…… .

.

Pada waktu pulang ke Kediri kemarin (15 Jumadil Ula 1429 H/20 Mei 2008), saya diajak bersilaturrahmi ke rumah seorang kyai yang dulunya merupakan guru saya juga. Alasan silaturrahmi tersbut, di samping saya sudah lama tidak bertemu dengan kyai tersebut sejak saya lulus SMA, beberapa waktu yang lalu kyai tersebut mengutus santrinya ke rumah saya dan meminta saya untuk menghadap beliau. Jadi mumpung pulang ke rumah, saya diajak silaturrahmi sekalian memenuhi permintaan kyai tersebut.

Setelah bertemu, kyai menjelaskan kepada saya bahwa beliau memperoleh informasi mengenai pemahaman agama saya yang sudah berbeda dari pemahaman yang beliau ajarkan kepada saya dahulu. Intinya beliau ingin ber-tabayyun (cek dan ricek) mengenai informasi yang beliau terima tersebut.

Saya menanyakan kepada beliau terlebih dahulu, pemahaman mengenai apa yang dimaksudkan, sebab tidak semua pemahaman saya yang sekarang ini berbeda dengan yang saya peroleh dari beliau.

Kyai menyebutkan mengenai masalah ziarah qubur dan tahlil. Maka saya menjelaskan bahwa secara umum kedua hal tersebut masih saya lakukan, hanya tata caranya berbeda dengan yang dulu beliau ajarkan.

Mengenai ziarah qubur, selanjutnya beliau menanyakan apa dasar saya sehingga tidak mau membaca Al-Qur’an untuk mayit di kuburan.

Saya menjawab bahwa Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa ‘alaa alihi wa sallam telah bersabda,”Janganlah kamu menjadikan rumah-rumahmu sebagai kuburan (yang mana tidak boleh melakukan sholat dan membaca Al-Qur’an di tempat tersebut-pen). Sesungguhnya syetan akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqoroh.” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah Rodliyallohu ‘anhu).

Kyai tersebut menanggapi bahwa hadits tersebut bukan berarti tidak boleh membaca Al-Qur’an di kuburan, tetapi hanya anjuran untuk menghiasi rumah dengan bacaan Al-Qur’an. Selanjutnya beliau menanyakan dalil lain yang menerangkan mengenai larangan membaca Al-Qur’an di kuburan.

Berhubung saya bukanlah ahlul ‘ilmi dan terus terang ilmu Bahasa ‘Arab saya kalah jauh dari beliau, serta untuk menjaga agar ilmu Ahlus Sunnah dan pengikutnya tidak terhinakan, maka saya menjawab bahwa saya belum bisa menerangkan secara rinci dan mendetail. [1]

Selanjutnya beliau menyatakan bahwa karena saya tidak bisa menjelaskan secara rinci alasan tidak boleh membca Al-Qur’an di kuburan, maka sebaiknya saya tidak usah mengikuti pemahaman tersebut. Kyai tersebut kemudian menjelaskan berbagai aliran sesat yang kini mulai berkembang di Kediri, antara lain ajaran bai’at (Khowarij), NII, Jama’ah Tabligh, Hizbut-Tahrir, dan Islam Liberal. Beliau menjelaskan kesesatan aliran-aliran tersebut sambil menjelaskan bantahan terhadap beberapa syubhat mereka.

Yang menarik, ketika beliau menyampaikan tentang aliran yang beliau sebut dengan ‘WAHHABI’, beliau menceritakan pengalaman kenalan beliau (yang kebetulan lulusan pesantren juga) yang pernah bekerja pada keluarga kerajaan di Arab Saudi. Ketika kenalan beliau tersebut berdebat masalah pemahaman terhadap agama Islam dengan pengikut ‘WAHHABI’ ini, kyai tersebut menceritakan dan mengakui bahwa secara hujjah (Al-Qur’an dan As-Sunnah) kenalan beliau tersebut kalah telak dari mereka.[2] Namun yang membuat kenalan kyai tersebut tetap teguh pada pemahamannya semula adalah prinsipnya bahwa “Masa’ sih kyai saya dulu salah ? karena merekalah yang mengajarkan pemahaman agama seperti yang dianutnya itu. Dengan demikian dia tetap berpegang pada pemahaman yang diperoleh dari pendidikan di pesantrennya dulu.

Mendengar prinsip “Masa’ sih kyai saya dulu salah ? saya menjadi teringat bahwa inilah model taqlid buta secara mutlak yang dicela oleh Islam (kecuali kepada Alloh dan Rosul-Nya). Seolah-olah mereka lupa bahwa kyai mereka itu bukanlah orang yang maksum. Perkataan tersebut hanya dibenarkan bila berbunyi “Masa’ sih Rosululloh salah ? [3] (disertai pemahaman yang benar tentunya).

Bukankah perkataan seperti itu (“Masa’ sih kyai saya dulu salah ? , “Masa’ sih kakek dan bapak saya dulu salah ? ) yang telah menjerumuskan Abu Thalib kekal di dalam neraka selama-lamanya walaupun telah banyak berjasa dalam membantu da’wah Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa ‘alaa alihi wa sallam di Mekkah ? Ingatlah apa yang dikatakan oleh Abu Jahal dan Abu Lahab kepada Abu Thalib tatkala Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa ‘alaa alihi wa sallam menyeru kepada pamannya tersebut untuk masuk Islam menjelang sakaratul mautnya,”APAKAH ENGKAU BENCI KEPADA AGAMA ABDUL MUTHTHALIB (yakni ayahnya dulu-pen) ?

(RENUNGKANLAH WAHAI SAUDARAKU SEIMAN !!)

Sebelum timbul anggapan yang menyatakan bahwa saya terlalu berani menyamakan kyai tersebut dengan kafir Mekkah, saya menjawab terlebih dahulu bahwa bukan itu yang saya maksudkan. Tetapi cermatilah bahwasanya agama yang dibawa oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa ‘alaa alihi wa sallam adalah agama Ibrahim yang hanif (TAUHID). Sedangkan agama bangsa ‘Arab Mekkah pada waktu Rosululloh diutus juga agama Ibrahim, tetapi telah terkotori oleh berbagai pemahaman syirik {seperti berdo’a kepada berhala dengan anggapan sebagai perantara kepada Alloh (QS. Az-Zumar [39]: 3) dan pemberi syafa’at (QS. Yunus [10]: 18)}.

Bukti akan hal tersebut adalah kaum musyrikin ‘Arab telah terbiasa melaksanakan ibadah haji dan qurban jauh sebelum Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa ‘alaa alihi wa sallam diutus. Jadi di mana letak perbedaan antara agama kaum musyrikin Mekkah dengan yang dibawa oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa ‘alaa alihi wa sallam (ISLAM) ? Yaitu pada PEMAHAMAN terhadap agama (TERUTAMA TENTANG AQIDAH) dan hujjah yang benar lagi kuat.

Selanjutnya kyai tersebut menyatakan bahwasanya beliau sangat mengharapkan sikap beliau yang mengikut kepada kyai gurunya yang terdahulu dapat menyelamatkan beliau di hari kiamat kelak (di samping Rahmat dari Alloh dan Syafa’atnya Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa ‘alaa alihi wa sallam) melalui pemberian syafa’at oleh mereka (kyai gurunya tersebut).

Jika kyai yang beliau maksud itu betul-betul orang sholih dan betul-betul mengikuti pemahaman agama yang benar, insya Alloh harapan beliau tersebut bisa terwujud. Akan tetapi apabila telah nyata bahwasanya pemahaman kyai yang beliau harapkan syafa’atnya tersebut menyimpang dari pemahaman yang diajarkan oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa ‘alaa alihi wa sallam dan para shahabatnya Rodliyallohu ‘anhum ajma’iin, maka terjadilah firman Alloh:

"Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: "Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja? Mereka menjawab: "Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri." (QS.Ibrahim [14]: 21).

Kyai tersebut juga mendukung pernyataan kedua orang tua saya yang menyatakan bahwa mereka berdua tidak ridlo dengan pemahaman yang saya pegang sekarang. Mengenai hal ini saya tidak merasa risau, bukankah ibu dari dua orang shohabat mulia, Sa’ad bin Abi Waqqosh dan Mush’ab bin Umair, juga tidak ridlo ketika pemahaman kedua shohabat tersebut berbeda dari pemahaman musyrik Mekkah umumnya (yakni dengan masuk Islam) ?

Selama yang saya pegang itu benar dan didukung oleh hujjah dan pemahaman yang benar pula, mengapa saya harus mencari ridlo manusia ? Sedangkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala (yang telah menciptakan saya dan melimpahkan rahmat dan karunia-Nya yang begitu besar kepada saya sejak lahir sampai sekarang) lebih patut saya mencari keridloan-Nya?

Dari keseluruhan pembicaraan dalam silaturrahmi tersebut, Alhamdulillah keyakinan saya terhadap apa yang saya pegang dan saya pahami sekarang ini semakin bertambah kuat. Saya memohon kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala agar saya diteguhkan di atas jalan yang diridloi-Nya sampai saat saya menghadap-Nya kelak.

Robbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa, wa hab lanaa min ladunka rohmah, innaka anta-l Wahhab.

Allohumma yaa muqollibal quluub, tsabbit qolbii ‘alaa diinika.

.

Footnote:

[1]Dalil yang paling jelas dalam masalah ini adalah tidak pernah dijelaskan dalam hadits atau atsar yang shohih dari Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa ‘alaa alihi wa sallam, para shohabat Rodliyallohu ‘anhum ajma’iin, tabi’in dan taab’iut tabi’in, bahwasanya mereka pernah atau membolehkan membaca Al-Qur’an di kuburan dan menghadiahkan pahala bacaannya kepada mayit.

Tidak adanya dalil ini merupakan dalil bahwasanya membaca Al-Qur’an di kuburan itu harom (tidak disyari’atkan); sebagaimana kaidah ‘Al-ashlu fil ‘ibaadah muharrom’ – pada asalnya segala sesuatu dalam masalah ibadah itu harom (sampai ada dalil shohih yang menunjukkan kebolehannya). Kaidah ini didukung oleh dalil yang banyak sekali, antara lain sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa ‘alaa alihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Bukhori-Muslim dari ‘Aisyah Rodliyallohu ‘anha,”Siapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan kami (Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa ‘alaa alihi wa sallam) ini (yakni dalam masalah agama, karena untuk urusan inilah beliau diutus) yang bukan darinya (yakni tidak ada perintah atau dalilnya) maka dia tertolak.

Di dalam Riyadlush-Sholihin, Imam Nawawi telah menulis dalam bab ‘Mendo’akan mayit setelah dikubur dan duduk sesaat di pemakaman untuk mendo’akan dan memohonkan ampunan baginya’: “Imam Syafi’i berkata,’Dan dianjurkan (yustahabbu) membaca sesuatu dari Al-Qur’an di sisinya (maksudnya: di samping mayat setelah dikuburkan), dan jika mereka mengkhatamkannya maka itu lebih baik (hasanan)’.”

Perkataan Imam Nawawi di atas telah dikomentari oleh ‘ulama’ ahli hadits zaman ini dari Syam, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani sebagai berikut:

Saya tidak tahu di mana Imam Asy-Syafi’i mengatakan hal tersebut. Dan saya meragukan kebenaran riwayat dari Asy-Syafi’i ini. Bagaimana tidak, padahal madzhabnya bahwa membaca (Al-Qur’an) tidak akan sampai pahalanya kepada mayit, sebagaimana yang dinukil oleh Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika menafsiri firman Alloh:"dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya" (QS. An-Najm[53]: 39). [Lihat tafsir Ibnu Katsir QS. An-Najm:39-pen]. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengisyaratkan ketidakbenaran berita tersebut dari Imam Asy-Syafi’i, dengan komentarnya dalam kitab Al-Iqtidlo’:” Tidak dinukil dari Imam Asy-Syafi’i sendiri dalam masalah ini satu komentar pun, karena hal tersebut baginya adalah bid’ah. Imam Malik berkata,’ Kami tidak tahu seorang pun yang melakukan hal ini.’ Maka berarti bisa dipastikan bahwa para shahabat dan tabi’in tidak pernah melakukannya.” [SELESAI UCAPAN IBNU TAIMIYAH-pen].

Dan ini adalah madzhab Imam Ahmad juga, yaitu tidak sah membaca Al-Qur’an di kuburan, sebagaimana yang saya tetapkan dalam kitab saya Ahkaamul Janaa-iz (hal. 192-193). Dan inilah pendapat akhir Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah seperti yang sudah saya buktikan di dalam kitab tersebut (hal. 173-176).”[SELESAI UCAPAN SYAIKH ALBANI-pen].

Penerjemah Riyadlush-Sholihin terbitan Duta Ilmu-Surabaya (Ust. Agus Hasan Bashori) menambahkan komentar terhadap ucapan Imam Nawawi di atas:”Imam Nawawi tidak konsisten dalam menulis informasi tersebut. Di dalam kitab Riyadlush-Sholihin ini dia menulis,”Imam Asy-Syafi’i berkata ……”, sedangkan di dalam Al-Adzkaar dia menulis,” Imam Asy-Syafi’i dan para shohabat beliau berkata ……”.Dan di dalam Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadz-dzab dia menulis,” Syafi’iyyah (yakni pengikut madzhab Imam Asy-Syafi’i-pen) berkata ……”. Sedangkan selain An-Nawawi tidak ada yang menuliskan dari Imam Asy-Syafi’i. Maka menurut hemat saya, yang benar adalah perkataan ‘Syafi’iyyah atau para shohabatnya’ dan bukan dari Imam Asy-Syafi’i. Lihat Al-Adzkaar tahqiq Abdul Qodir Al-Arnauth hal. 237 dan Al-Majmu’ (Dar Al-Fikr 5/294). [SELESAI UCAPAN UST. AGUS HASAN BASHORI-pen]

[2]Allohu Akbar. Inilah salah satu bukti bahwa da’wah itu haruslah ditegakkan di atas bashiroh (ilmu dan pemahaman yang benar). Sebab hujjah yang paling kuat adalah hujjah dari Alloh dan Rosul-Nya. Lihat QS. Yusuf [12]: 108 dan QS. Al-An’aam [6]: 149.

[3]Sebagaimana yang beliau (kyai tersebut) sampaikan pada pembicaraan-pembicaraan selanjutnya.

.

Subhanakallohumma wa bihamdihi,

Asyhadu an laa ilaaha illa anta, wa astaghfiruka wa atuubu ilaika

Wa akhiru da'wana, walhamdulillahirobbil 'alamin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Bagi antum yang ingin memberikan komentar, harap tidak menyertakan gambar/foto makhluk hidup. Bila tetap menyertakan, posting komentar tidak akan saya tampilkan. Syukron !