Mau'idhoh

Dari 'Abdulloh bin 'Abbas rodliyallohu 'anhumaa, bahwasanya Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa 'alaa aalihi wa sallam bersabda,

"Jagalah Alloh, Alloh akan menjagamu. Jagalah Alloh, engkau akan mendapatkan-Nya di hadapanmu.

Jika engkau meminta, memintalah kepada Alloh. Dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Alloh.

Ketahuilah, jika seluruh umat bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali dengan apa yang telah Alloh taqdirkan bagimu. Dan jika seluruh umat bersatu untuk memberikan mudhorot kepadamu, niscaya mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali dengan apa yang telah Alloh taqdirkan atasmu. Pena telah diangkat dan catatan telah kerin
g."

(HR. Tirmidzi, dia berkata "Hadits hasan shohih")

31 Desember 2017

FILE 365 : Manusia Berkah

Bismillaahirrohmaanirrohiim            
Walhamdulillaah,    
Wash-sholaatu wassalamu 'ala Rosulillaah Muhammad Shollalloohu 'alaihi  wa 'alaa aalihi  wa shahbihi  wa sallam          
Wa ba'du .... .  .


  Menjadi Manusia Berkah    
Oleh:
Ustadz Ammi Nur Baits hafidhahullaah 


Berkah secara bahasa dari kata al-buruk [البروك] yang artinya menetap. Sumur bahasa arabnya birkah [بِركَة], karena ada air menetap di dalamnya. Kemudian kata ini digunakan untuk menyebut sesuatu yang memiliki banyak kebaikan. Allah menyebut al-Quran sebagai kitab yang diberkahi,

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. 
(QS. Shad [38]: 29)

Karena dalam al-Quran menetap banyak kebaikan dari Allah. (al-Mufradat fi Gharib al-Quran, al-Ashfahani, hlm. 44).


Menjadi Manusia Berkah

Menjadi manusia berkah berarti manusia yang memiliki banyak kebaikan. Kebaikan dalam bentuk, banyak memberikan manfaat bagi orang lain. Dan itulah prestasi manusia yang sejatinya. Menjadi hamba Allah yang banyak memberikan manfaat bagi yang lain.

Dalam al-Quran, Allah menyebut Nabi Isa sebagai manusia yang diberkahi. Allah berfirman menceritakan perkataan Nabi Isa sewaktu masih bayi,

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ

“Dan Allah menjadikanku banyak keberkahan di manapun aku berada.” 
(QS. Maryam [19]: 31)

https://media-exp2.licdn.com/mpr/mpr/shrinknp_200_200/p/2/000/260/093/1372bff.jpgBeliau 'alaihis salaam disebut orang yang berkah, karena beliau membawa wahyu yang merupakan kebaikan untuk semua hamba.

Menjadi manusia berkah juga merupakan cita-cita orang tua kita semua. Hampir setiap bayi yang diaqiqahi, orang tua selalu menggantungkan harapan, “Semoga menjadi anak yang bermanfaat, bagi orang tua, masyarakat, nusa bangsa, dan agama.”

Mereka berharap, agar kita menjadi manusia penebar manfaat. Manfaat tidak hanya untuk orang tua, tapi untuk lingkungannya.

Ada seorang penulis yang mendoakan para pembaca karyanya agar menjadi manusia yang berkah di mana-mana. Beliau adalah Syaikh Muhammad bin Sulaiman at-Tamimi. Dalam kitabnya, Qawaidul Arba’ beliau mengatakan,

أسأل الله الكريم ربّ العرش العظيم أن يتولاّك في الدنيا والآخرة، وأن يجعلك مبارَكًا أينما كنت

Aku memohon kepada Allah yang mulia, Rab pemilik Arsy yang agung, agar Dia membimbing anda di dunia dan akhirat. Dan agar Dia menjadikan anda orang yang penuh berkah dimanapun anda berada. (al-Qawaid al-Arba’).


Potensi dan Keberkahan

Kita tidak diminta untuk memberikan semua bentuk kebaikan kepada orang lain. Karena itu mustahil bisa kita lakukan, mengingat kita tidak memiliki semua potensi yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Karena itulah, Islam mengarahkan kepada kita untuk memberikan manfaat bagi orang lain, sesuai potensi yang kita miliki.

Dan bagian dari keadilan Allah, Dia membagi amal bagi para hamba-Nya, sesuai potensinya.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَه

Beramal-lah, karena setiap jiwa itu dimudahkan sesuai tujuan penciptaannya. 
(HR. Bukhari 4949 & Muslim 6903)

Semua manusia diarahkan untuk beramal sesuai dengan ujung hidupnya. Orang yang mendapat kebahagiaan di ujung hidupnya, akan dimudahkan untuk melakukan amal yang mengantarkannya kepada kebahagiaan. Dan sebaliknya.

Imam Malik pernah mendapatkan sepucuk surat dari kawannya, Abdullah al-Umari, orang yang sangat rajin beribadah. Dalam surat itu, kawannya mengajak Imam Malik agar jangan berlebihan duduk mengajar hadis di Madinah, tapi hendaknya menyendiri dalam rangka banyak beribadah.

Kemudian Imam Malik memberikan jawaban dengan pernyataan yang cukup menekan,

إن الله عز و جل قسم الأعمال كما قسم الأرزاق فرب رجل فتح له في الصلاة ولم يفتح له في الصوم وآخر فتح له في الصدقة ولم يفتح له في الصوم وآخر فتح له في الجهاد ولم يفتح له في الصلاة ونشر العلم وتعليمه من أفضل أعمال البر

Sesungguhnya Allah –Ta’ala- telah membagi amal untuk para hamba-Nya, sebagaimana Allah membagi rizki. Ada banyak orang yang dimudahkan untuk melakukan amal shalat, namun dia tidak dimudahkan untuk puasa. Ada juga yang dimudahkan dalam bersedekah, namun tidak dimudahkan untuk amal puasa. Ada yang dimudahkan untuk jihad, namun tidak dimudahkan untuk shalat. Dan menyebarkan ilmu serta mengajarkannya, termasuk amal kebaikan yang paling afdhal.

Lalu beliau melanjutkan,

وقد رضيت بما فتح الله لي من ذلك وما أظن ما أنا فيه بدون ما أنت فيه وأرجو أن يكون كلنا على خير ويجب على كل واحد منا أن يرضى بما قسم الله له والسلام

Dan saya telah ridha dengan kemudahan amal yang diberikan oleh Allah kepadaku. Dan aku tidak menganggap bahwa amal yang saat ini saya tekuni, lebih rendah tingkatannya dibandingkan amal yang sedang kamu jalani (berjihad). Dan saya berharap, masing-masing kita berada dalam kebaikan. Dan wajib bagi kita untuk ridha dengan pembagian amal yang telah ditetapkan oleh Allah. was salam … (at-Tamhid, Syarh Muwatha’, 7/185)

Kita tidak diminta agar semuanya menjadi dai. Atau menjadi orang kaya yang dermawan. Atau menjadi pejabat yang bisa memberi banyak kemudahan bagi lingkungan. Namun masing-masing diminta untuk menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai hamba Allah dan berusaha memberikan manfaat sesuai potensi yang dimiliki.

Mereka yang memiliki jabatan, bisa memberikan manfaat bagi umat islam dengan jabatannya…

Mereka yang diberi kelebihan harta, bisa memberikan manfaat dengan kelebihan hartanya….

Sebagaimana mereka yang diberi pemahaman ilmu, bisa memberikan manfaat dengan ilmunya…


Hanya untuk Pribadi

Sayangnya, banyak orang yang berkorban hanya untuk mengembangkan potensi yang manfaatnya tidak berlaku bagi orang lain.

Berkorban untuk merawat kecantikan, berkorban untuk semakin tampan dan menawan. Berjuang untuk menjadi hamba Allah yang sixpack. Padahal itu semua manfaatnya hanya untuk pribadinya, tidak berlaku untuk orang lain. Paling-paling yang mendapat manfaatnya hanya pasangan hidupnya, suaminya atau istrinya. Itupun bisa menjadi tidak berarti, jika tidak diiringi akhlak yang baik.

Lelaki siapapun tidak akan bahagia jika harus berdampingan dengan istri yang suka melawan dan tidak bisa menjaga lisannya. Meskipun dia cantik mandraguna. Sebagaimana wanita  manapun tidak akan bisa tenang hidupnya jika suaminya sombong, kasar, atau suka main tangan. Meskipun dia tampan KW enam.

Ada juga yang memperjuangkan hobi. Dia bisa menghabiskan ratusan juta hanya untuk hobi… padahal manfaatnya hanya untuk kepuasan dia semata.


Hiasi dengan Ilmu Agama

Ternyata semangat memberi manfaat itu keluar, ketika manusia paham agama. Islam menghargai semua kelebihan manusia, namun kelebihan itu baru ternilai, ketika pemiliknya paham syariat dan ilmu agama. Karena hanya dengan modal pemahaman aturan agama, manusia bisa mengendalikan segala kelebihannya dengan benar, sehingga manfaatnya lebih luas. Standar inilah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

النَّاسُ مَعَادِنُ، خِيَارُهُمْ فِي الجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الإِسْلاَمِ، إِذَا فَقُهُوا

Manusia adalah barang tambang. Manusia terbaik di zaman jahiliyah dia juga yang terbaik setelah masuk Islam, apabila dia paham agama. 
(HR. Bukhari 3383 dan Muslim 2526)

Barang tambang beraneka ragam tingkatannya. Di sana ada emas, ada perak, nikel, besi, bahkan kerikil dan pasir. Masing-masing memiliki nilai yang jauh berbeda sesuai kelebihannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan manusia sebagaimana layaknya barang tambang. Masing-masing memiliki nilai yang berbeda sesuai tingkat kelebihannya. Namun semua itu baru memiliki arti, ketika dia paham agama.


Mengapa Tidak Belajar Agama?

Saya tidak tahu, mana ungkapan yang lebih tepat, ngaji sambil bekerja ataukah bekerja sambil ngaji.? Bagi kita yang tidak berkepentingan dengan masalah bahasa, bolak-balik semacam ini bukan masalah penting. Apapun itu, kita berharap bisa seperti yang disebutkan dalam hadis Abu Hurairah di atas.

Anda yang saat ini sedang bekerja, memiliki setahap keunggulan lebih maju dibandingkan mereka yang pengangguran. Anda memiliki penghasilan, berpeluang untuk bisa sukses. Meskipun tingkatannya berbeda. Anda tentu berharap semua keunggulan yang anda miliki lebih berarti.

Sejak bangun pagi hingga tidur lagi, dari senin hingga ahad, anda akan memiliki sejuta kegiatan. Namun anda tidak boleh membiarkan diri anda larut dengan kesibukan mencari dunia. Dengan adanya banyak kesibukan, menuntut anda untuk cerdas dalam menentukan prioritas.

Nasehat pertama, hati-hati dalam memilih komunitas. Sebagian besar manusia rusak karena salah memilih komunitas. Sebaliknya banyak orang menjadi soleh, juga karena komunitas.

Selanjutnya, manfaatkan bagian usia anda untuk belajar ilmu agama, untuk memahami Islam, belajar al-Quran, hadis, sekaligus memahami maknanya dengan benar. Jika anda bisa mengatur waktu dengan tepat, kajian Islam sama sekali tidak akan mengganggu aktivitas dan kesibukan anda.

Di saat itulah, anda bisa berharap untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat. Ingatlah pesan dalam sebuah hadis,

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ

“Manusia yang paling dicintai Allah, adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” 
(at-Thabrani dalam as-Shaghir, 862 – Majma’ Zawaid 13708)

Selamat menjadi manusia berkah…

Allahu a’lam.
***** 
Sumber: konsultasisyariah.com 
 
Subhanakallohumma wa bihamdihi,
Asyhadu an laa ilaaha illa anta, wa astaghfiruka wa atuubu ilaika   
Wa akhiru da'wana, walhamdulillahirobbil 'alamiin

14 Desember 2017

FILE 364 : Hukuman Bagi Koruptor dalam Pandangan Islam

Bismillaahirrohmaanirrohiim            
Walhamdulillaah,    
Wash-sholaatu wassalamu 'ala Rosulillaah Muhammad Shollalloohu 'alaihi  wa 'alaa aalihi  wa shahbihi  wa sallam          
Wa ba'du .... .  .


  Hukuman yang Tepat Bagi Korupsi      
Ditulis Oleh:
Ust. DR. Erwandi Tarmizi, MA
(Artikel ini pernah dimuat di Majalah Cetak Pengusaha Muslim Indonesia, Edisi Mei 2012)

Dalam Islam, korupsi berbeda dengan mencuri. Karena itu bentuk hukumannya pun tidak sama. Koruptor wajib mengembalikan seluruh harta yang telah dikorupnya. Dosa korupsi termasuk kezaliman kepada makhluk. Tanggung jawab taubatnya lebih berat.

Korupsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah penyelewengan atau penggelapan (uang negara atau perusahaan, dsb.) untuk keuntungan pribadi atau orang lain.[i] Dari definisi ini, maka harta yang diselewengkan seorang koruptor adakalanya harta milik sekelompok orang seperti perusahaan atau harta serikat dan adakalanya harta milik banyak orang (rakyat atau negara).

Dalam tinjauan fikih, seorang pegawai perusahaan atau instansi pemerintahan, ketika dipilih mengemban tugas, sesungguhnya dia diberi amanah untuk menjalankan tugas sesuai dengan peraturan yang berlaku. Karena beban amanah dia mendapat imbalan (gaji). Jika ia menyelewengkan harta yang diamanahkan kepadanya, dan ia menggunakannya bukan untuk yang telah diatur oleh pengguna jasanya, seperti dipakai untuk kepentingan pribadi atau orang lain dan bukan untuk kemaslahatan yang telah diatur, dia telah berkhianat terhadap amanah yang diembannya.

Dalam kasus tidak amanah terhadap harta orang lain, pengkhianatan terhadap harta sekolompok orang lebih besar akibatnya daripada berkhianat terhadap harta individu. Dan lebih besar lagi konsekuensinya jika yang dikhianati adalah harta milik banyak orang (harta negara). Dalam syariat, pengkhianatan terhadap harta negara bisa disebut ghulul, sekalipun dalam terminologi bahasa Arab, ghulul berarti sikap seorang mujahid yang menggelapkan harta rampasan perang sebelum dibagi.[ii]

Dalam buku Raudhatun Na’im disebutkan, perbuatan yang termasuk ghulul adalah menggelapkan harta umat Islam (harta negara)[iii] berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Al-Mustaurid bin Musyaddad, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Barang siapa yang kami angkat sebagai aparatur negara hendaklah dia menikah (dengan biaya tanggungan negara). Jika tidak mempunyai pembantu rumah tangga hendaklah dia mengambil pembantu (dengan biaya tanggungan negara). Jika tidak memiliki rumah hendaklah dia membeli rumah (dengan biaya tanggungan negara).”

Abu Bakar berkata, “Aku diberitahu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa (aparat) yang mengambil harta negara selain untuk hal yang telah dijelaskan, sungguh ia telah berbuat ghulul atau dia telah mencuri.” (HR. Abu Daud. Hadis ini dinyatakan sahih oleh Al-Albani)

Ibnu Hajar Al Haitami (wafat 974 H) berkata, “Sebagian para ulama berpendapat bahwa menggelapkan harta milik umat Islam yang berasal dari baitul maal (kas negara) dan zakat termasuk ghulul. [iv]

Istilah ghulul untuk korupsi harta negara juga disetujui oleh Komite Fatwa Kerajaan Arab Saudi, dalam fatwa No. 9450: “Ghulul yaitu mengambil sesuatu dari harta rampasan perang sebelum dibagi oleh pimpinan perang … dan termasuk juga ghulul harta yang diambil dari baitul maal (uang negara) dengan cara berkhianat (korupsi).”[v] 

Ini juga hasil tarjih Dr. Hanan Malikah dalam pembahasan Takyiif fiqhiy (kajian fikih untuk menentukan bentuk kasus) tentang korupsi.[vi]



Hukum Potong Tangan untuk Koruptor

Apakah koruptor dapat disamakan dengan pencuri? Bila ya, bolehkah dijatuhi hukuman potong tangan? Demikian pertanyaan mendasar yang patut kita jawab.

Allah berfirman, yang artinya, Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Maidah [5]: 38).

Firman Allah yang memerintahkan untuk memotong tangan pencuri bersifat mutlaq. Tidak dijelaskan batas maksimal harga barang yang dicuri, tempat barang dicuri dan sebagainya. Akan tetapi kemutlakan ayat tersebut ditaqyid (diberi batasan) oleh hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh karena itu para ulama mensyaratkan beberapa hal untuk menjatuhkan hukum potong tangan bagi pencuri. Di antaranya, barang yang dicuri berada dalam (hirz) tempat yang terjaga dari jangkauan, seperti brankas/lemari yang kuat dalam kamar tidur untuk barang berharga semisal emas, perhiasan, uang, surat berharga dan lainnya, dan seperti garasi untuk mobil. Bila persyaratan ini tidak terpenuhi, tidak boleh memotong tangan pencuri.

Hal tersebut berdasarkan pada sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ditanya oleh seorang laki-laki suku Muzainah tentang hukuman bagi pencuri buah kurma: “Pencuri buah kurma dari pohonnya lalu dibawa pergi, hukumannya adalah dia harus membayar dua kali lipat. Pencuri buah kurma dari tempat jemuran buah setelah dipetik hukumannya adalah potong tangan, jika harga kurma yang dicuri seharga perisai yaitu 1/4 dinar (± 1,07 gram emas).[vii] (HR. Nasa’i dan Ibnu Majah. Menurut Al-Albani derajat hadis ini hasan). 

Hadis ini menjelaskan maksud ayat yang memerintahkan potong tangan, bahwa barang yang dicuri berada dalam penjagaan pemiliknya dan sampai seharga 1/4 dinar.

Persyaratan tersebut tidak terpenuhi untuk kasus korupsi. Ini karena koruptor menggelapkan uang milik negara yang berada dalam genggamannya melalui jabatan yang dipercayakan kepadanya. Dan dia tidak mencuri uang negara dari kantor kas negara. Oleh karena itu, para ulama tidak pernah menjatuhkan sanksi potong tangan kepada koruptor.

Untuk kasus korupsi, yang paling tepat adalah koruptor mengkhianati amanah uang/barang yang dititipkan, karena dia dititipi amanah uang/barang oleh negara. Sementara orang yang mengkhianati amanah dengan menggelapkan uang/barang yang dipercayakan kepadanya tidaklah dihukum potong tangan berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Orang yang mengkhianati amanah yang dititipkan kepadanya tidaklah dipotong tangannya.” (HR. Tirmidzi dan di-hasan-kan oleh Al-Albani)

Di antara hikmah Islam membedakan antara hukuman bagi orang yang mengambil harta orang lain dengan cara mencuri dan mengambilnya dengan cara berkhianat adalah bahwa menghindari pencuri suatu hal yang sangat tidak mungkin. Hal ini karena pencuri dapat mengambil harta orang lain yang dijaga dengan perangkat keamanan apa pun. Maka tidak ada cara lain untuk menghentikan aksinya hanya dengan menjatuhkan sanksi yang membuatnya jera dan tidak dapat mengulangi lagi perbuatannya, karena tangannya, alat utama untuk mencuri, telah dipotong. Sedangkan orang yang mengkhianati amanah uang/barang dapat dihindari dengan tidak menitipkan barang kepadanya. Sehingga merupakan suatu kecerobohan ketika seseorang memberikan kepercayaan uang/barang berharga kepada orang yang tidak ketahui kejujurannya.[viii] 

Untuk itu, kejahatan koruptor sesungguhnya bukan saja kejahatan dia sendiri, tetapi juga kejahatan orang yang mengangkat serta mempercayakan jabatan penting kepadanya. Ini bukan berarti seorang koruptor terbebas dari hukuman apa pun. Seorang koruptor tetap layak dihukum. Di antara hukuman yang dijatuhkan kepada koruptor adalah sebagai berikut:
 
Pertama, koruptor diwajibkan mengembalikan uang negara yang diambilnya, sekalipun telah habis ia gunakan. Negara berhak menyita hartanya yang tersisa dan sisa yang belum dibayar akan menjadi utangnya, selamanya.

Ketentuan tersebut berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Setiap tangan yang mengambil barang orang lain yang bukan haknya wajib menanggungnya hingga ia menyerahkan barang yang diambilnya.” (HR. Tirmidzi. Zaila’i berkata, sanad hadis ini hasan)

Kedua, hukuman ta’zir. Yakni hukuman yang tidak ditentukan oleh Allah karena tidak terpenuhinya salah satu persyaratan untuk menjatuhkan hukuman hudud. [ix]

Sedangkan hudud adalah hukuman untuk suatu kasus yang telah dijelaskan Allah dan Rasul-Nya. Mulai jenis hukuman serta persyaratannnya. Seperti rajam bagi pezina yang telah menikah atau 100 kali cambuk untuk pezina yang belum menikah, 80 kali cambuk untuk orang yang menuduh orang lain berzina, 40 kali cambuk untuk orang minum khamar, potong tangan bagi pencuri, qishash (nyawa dibayar nyawa) bagi orang yang membunuh jiwa, hukuman pancung bagi orang yang murtad dan orang yang memberontak terhadap pemimpin yang bertakwa. 

Kejahatan korupsi serupa dengan mencuri, hanya saja tidak terpenuhi persyaratan untuk dipotong tangannya. Karena itu hukumannya berpindah menjadi ta’zir.

Jenis hukuman ta’zir bagi koruptor diserahkan kepada ulil amri (pihak berwenang) untuk menentukannya. Bisa berupa hukuman fisik, harta, kurungan, moril dan sebagainya, yang dianggap dapat menghentikan keingingan orang untuk berbuat kejahatan. 

Di antara hukuman fisik adalah hukuman cambuk. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa Nabi menjatuhkan hukuman cambuk terhadap pencuri barang yang kurang nilainya dari 1/4 dinar.

Hukuman kurungan (penjara) juga termasuk hukuman fisik. Diriwayatkan bahwa khalifah Utsman bin Affan pernah memenjarakan Dhabi bin Al-Harits karena dia melakukan pencurian yang tidak memenuhi persyaratan potong tangan. 

Denda dengan membayar dua kali lipat dari nominal harga barang atau uang negara yang diselewengkannya merupakan hukuman terhadap harta. Sanksi ini dibolehkan berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap “Pencuri buah kurma dari pohonnya lalu dibawa pergi, hukumannya dia harus membayar dua kali lipat. (HR. Nasa’i dan Ibnu Majah). 

Hukuman ta’zir diterapkan karena pencuri harta negara tidak memenuhi syarat untuk dipotong tangannya, disebabkan barang yang dicuri tidak berada dalam hirz (penjagaan selayaknya).

Selain sanksi di atas, berbagai jenis hukuman lainnya yang dianggap memiliki dampak jera bagi para pelaku korupsi boleh diterapkan, seperti dipecat, bagi koruptor harta negara dalam jumlah kecil atau diumumkan di media massa.


Bertaubat dari Dosa Korupsi

Seseorang yang telanjur melakukan dosa korupsi hendaklah bertaubat sesegera mungkin. Korupsi adalah dosa yang dilakukan seorang hamba kepada Allah berhubungan dengan hak anak Adam. Ada empat syarat kesempurnaan taubat terkait dengan hak sesama anak adam. Yaitu:
  1. Orang yang bertaubat harus berhenti meninggalkan dosa saat itu juga.
  2. Ia harus menyesali perbuatannya.
  3. Ia harus bertekad tidak mengulangi lagi selama-lamanya.
  4. Ia wajib mengembalikan harta yang dikorupsinya kepada pemiliknya (negara).
Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tangan yang mengambil barang orang dengan cara yang tidak diridhainya wajib menanggung barang tersebut hingga dikembalikan kepada pemiliknya.” (HR. Ahmad. Menurut Al-Arnauth bahwa derajat hadis ini hasan lighairihi).

Juga sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa yang menzalimi kehormatan atau harta saudaranya maka hendaklah di hari ini ia minta saudaranya merelakan hal tersebut, sebelum datang suatu hari yang tidak ada dinar dan dirham. Jika ia mempunyai amal salih maka diambil amalan tersebut seukuran kezalimannya. Dan jika ia tidak mempunyai kebaikan diambil dosa-dosa orang yang dizalimi lalu dipikulkan kepadanya.” (HR. Bukhari)

Dan Islam tidak mengenal pencucian uang yang menyebabkan uang setelah “dicuci” menjadi bersih. Meskipun itu dilakukan sebagai bentuk pengelabuan jejak tipikornya. Selama dia terbukti korupsi, uang yang dikorupsi wajib dikembalikan seluruhnya dan diserahkan kepada pemiliknya (negara). (PM)

PullQuote:
  1. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa yang kami angkat sebagai aparatur negara hendaklah dia menikah (dengan biaya tanggungan negara). Jika tidak mempunyai pembantu rumah tangga hendaklah dia mengambil pembantu (dengan biaya tanggungan negara). Jika tidak memiliki rumah hendaklah dia membeli rumah (dengan biaya tanggungan negara).”
  2. Abu Bakar Radhiallahu 'anhu: “Aku diberitahu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa (aparat) yang mengambil harta negara selain untuk hal yang telah dijelaskan sungguh ia telah berbuat ghulul atau dia telah mencuri.
Kesimpulan Antara Mencuri dan Korupsi
  1. Pegawai perusahaan atau instansi pemerintah statusnya orang yang diberi amanah.
  2. Pengkhianatan terhadap harta masyarakat lebih besar akibatnya daripada pengkhianatan terhadap harta milik pribadi.
  3. Pengkhianatan terhadap harta yang diamanahkan disebut ghulul. Ghulul termasuk di dalamnya tindak pidana korupsi terhadap uang negara.
  4. Syarat hukuman potong tangan untuk pencuri antara lain:
    • Harus mencapai nilai minimal 1/4 dinar (1,07 gram emas).
    • Harta yang diambil berada dalam hirz (penjagaan yang layak dari pemilik).
  5. Korupsi harta negara atau perusahaan (ghulul) termasuk tindak pencurian yang tidak memenuhi syarat potong tangan. Karena pelaku mengambil harta yang ada di daerah kekuasannya melalui jabatannya. Sehingga harta itu bukan harta yang berada di bawah hirz (penjagaan pemilik).
  6. Hukuman untuk pelaku kriminal ada dua:
    • Hukuman yang ditetapkan berdasarkan ketentuan syariat (hudud).
    • Hukuman yang tidak ditetapkan berdasarkan ketentuan syariat, dan dikembalikan kepada keputusan hakim (ta’zir).
  7. Hukuman yang diberikan untuk koruptor adalah:
    • Dipaksa mengembalikan semua harta yang telah dikorupsi.
    • Hukuman ta’zir, yang bisa berupa denda, atau fisik seperti cambuk, atau dipermalukan di depan umum, atau penjara. Semuanya dikembalikan kepada keputusan hakim.
  8. Dosa korupsi termasuk kezaliman kepada makhluk, sehingga tanggung jawab taubatnya lebih berat.
Footnote:
[i] Hal 462.
[ii] Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, jilid XXXI, hal 272.
[iii] Gabungan para pakar yang diketuai oleh Dr. Shalih bin Humaid (imam Masjidil Haram), NadhratunNa’im fi makarimi akhlaq Ar Rasul al karim, jilid XI, hal 5131.
[iv] Az Zawajir an iqtirafil kabair, jilid II, hal 293.
[v]  Fataawa lajnah daimah, jilid XII, hal 36.
[vi] Jaraimul fasad fil fiqhil Islami, hal 99.
[vii] Batas minimal barang yang dicuri seharga 1/4 dinar berdasarkan sabda Nabi, “Tidak boleh dipotong tangan pencuri, melainkan barang yang dicuri seharga 1/4 dinar hingga seterusnya. (HR. Muslim).
[viii] Ibnu Qayyim,  I’lamul muwaqqi’in, jilid II, hal 80.
[ix] Almausuah alfiqhiyyah al kuwaitiyyah,  jilid XII, hal 276.

***** 
Sumber: pengusahamuslim.com 

Subhanakallohumma wa bihamdihi,
Asyhadu an laa ilaaha illa anta, wa astaghfiruka wa atuubu ilaika   
Wa akhiru da'wana, walhamdulillahirobbil 'alamiin

04 November 2017

FILE 363 : Cara Pendalilan Ulama dalam Berfatwa

Bismillaahirrohmaanirrohiim            
Walhamdulillaah,  
Wash-sholaatu wassalamu 'ala Rosulillaah Muhammad Shollalloohu 'alaihi  wa 'alaa aalihi  wa shahbihi  wa sallam        
Wa ba'du ....
.  .

  Apakah Tepat Pertanyaan yang Disampaikan:
Mana Dalilnya ?? Dan Mengapa Begini ?!    
Oleh:
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullaah 


Kaum muslimin hidup dalam waktu yang panjang. Mereka tidak mengenal selain madzhab Fulan dan madzhab Fulan, madzhab empat, madzhab ahlus sunnah wal jama’ah dan atau madzhab yang menyimpang dari ahlus sunnah wal jama’ah. Adapun yang bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah generasi yang telah disaksikan kebaikannya (Salafush Shalih). Kemudian berlalu masa tersebut, sampai zaman Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya. Mereka menyeru kaum muslimin kepada keharusan untuk kembali kepada pemahaman Salafush Shalih dalam hal bersandar kepada Al-Kitab dan As-Sunnah. Tidak diragukan bahwa da’wah Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya mempunyai pengaruh yang bagus. Tetapi pada masa itu peranannya sangat kecil dan kejumudan berfikir menguasai beberapa orang terutama orang-orang awam. 

Setelah generasi yang dibangunkan oleh Ibnu Taimiyah, kaum muslimin kembali kepada kejumudan dalam memahami fiqih, kecuali pada akhir-akhir ini. Banyak sekali ulama yang memperbaharui da’wahnya untuk menggerakkan dan membangunkan manusia untuk kembali kepada Al-Kitab dan As-Sunnah. Diantara ulama yang telah mendahului kita dalam hal ini adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Beliau telah menyeru untuk ittiba’ (mengikuti) kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Melihat keadaan penduduk Nejd yang aqidah keberhalaannya telah menguasai negeri mereka maka Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berusaha dengan gigih memperbaiki tauhid mereka.

Tabiat manusia kemampuannya terbatas. Mereka tidak sanggup memerangi semua kehinaan sebagaimana yang mereka katakan. Karena itu da’wah beliau bertumpu pada da’wah penyebaran tauhid dan memerangi kesyirikan serta keberhalaan. Sehingga sampailah da’wah yang bagus ke dunia Islam. Walaupun antara beliau dan lawannya terjadi peperangan yang sangat disesalkan. Ini adalah sunnatullah pada makhluk-Nya dan kamu tidak akan dapat menemui perubahan sunnatullah.

Pada saat ini telah banyak ulama yang memperbaharui da’wahnya kepada Al-Kitab dan As-Sunnah. Banyak sekali kebangkitan yang nampak dari bebagai kalangan di negeri-negeri Arab. Tetapi sangat disesalkan sekali, negara-negara ajam (non Arab) masih nyenyak dalam tidurnya.

Kelemahan bangsa Arab sebagaimana saya tunjukkan tadi, adalah bahwa sebagian mereka masih sepotong-sepotong dalam memahami Islam. Ada yang mengetahui sebagian tetapi bodoh pada bagian yang lain. Maka kita lihat seorang laki-laki umum, yang tidak faham sesuatu sedikitpun, apabila bertanya kepada orang alim tentang suatu masalah, dia berkata apa hukumnya ? Sama saja, apakah jawabannya tidak ada atau larangan, dia tergesa-gesa menuntut apa dalilnya ? 
.
Tidak selalu orang alim itu dapat memberikan dalil. Suatu dalil bisa diambil dengan cara istimbat (mengeluarkan dari sumbernya melalui ijtihad untuk menetapkan suatu hukum) dan iqtibas (mengambil faidah dari sumbernya), belum tentu secara jelas dan lugas dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. 

Seperti masalah ini, penanya hendak mengetahui sedalam-dalamnya dengan menanyakan “Apa Dalilnya ?”

Seharusnya penanya tahu diri, apakah dia itu ahli dalil atau tidak ? Apa dia telah mempunyai pengenalan dalil yang maknanya umum dan khusus, mutlaq dan muqayyad, nasikh dan mansukh ? Sedang dia tidak faham sedikitpun terhadap pengenalan tersebut. Apakah tepat pertanyaan yang disampaikan.. “Apa Dalilnya ??!! Dan mengapa begini ?!”.

Kami katakan tentang hukum tarian perempuan di depan suaminya, atau di depan saudara perempuannya sesama muslimah, bisa jadi boleh, bisa jadi dilarang ! Dan juga tarian laki-laki, dia menghendaki dalil di atas itu. 

Pada hakekatnya kami tidak menemukan dalil yang jelas dan gamblang dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dasar tersebut ditemukan dengan istimbat, penelitian dan pemahaman. Karena itu kami katakan, tidaklah setiap masalah harus dijelaskan dalilnya secara rinci, sehingga mudah dipahami oleh setiap muslim. Baik itu orang umum yang buta baca tulis, atau penuntut ilmu. Tidak harus begitu untuk setiap pertanyaan. 

Karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Artinya : Bertanyalah kepada Ahlul ilmi jika kalian tidak tahu” (QS. An-Nahl [16]: 43)

Di antara contoh ekstrim yang telah saya tunjukkan tadi, manusia yang paling jahil akan menjadi penentang dalil. Kebanyakan manusia yang menisbatkan dirinya dalam da’wah kepada Al-Kitab dan As-Sunnah menyangka, bahwa orang yang berilmu itu apabila ditanya suatu masalah, dia harus menjawab dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (Al-Qur’an) dan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam (Al Hadits).

Aku (Al-Albani) menjawab bahwa ini tidak wajib

Hal ini merupakan salah satu dari faedah-faedah ber-intima' (cenderung) kepada Salafus Shalih. Jalan mereka dan fatwa-fatwa mereka merupakan dalil bagi perbuatan yang telah saya jelaskan. Jadi wajib menyebutkan dalil ketika masalah itu menuntut adanya dalil. Tapi tidak wajib bagi setiap pertanyan harus dijawab dengan : Kata Allah Subhanahu wa Ta’ala begini atau kata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam begini’. Terlebih masalah ini merupakan masalah hukum yang rumit dan penuh perselisihan di dalamnya. 

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Artinya : Bertanyalah kepada Ahlul ilmi jika kalian tidak tahu” (QS. An-Nahl [16]: 43)

Ini adalah secara umum. Tidak ada kewajiban kecuali bertanya kepada orang yang kalian duga ahli ilmu. Jika telah dijawab, wajib bagi kalian untuk mengikutinya. Kecuali bila engkau dengar jawaban yang syubhat dari seorang ahli ilmu lainnya, sebaiknya engkau jelaskan yang syubhat itu. Sedangkan orang alim tersebut wajib berusaha dengan kemampuan ilmunya untuk menghilangkan kesyubhatan yang telah tampak pada penanya. 

Ringkasnya tarian wanita di depan suaminya dengan batasan yang telah disebut adalah boleh. Adapun tarian wanita di depan anak-anak perempuan, maka ada dua kemungkinan juga, sebagaimana tarian perempuan di depan suaminya. Jika tariannya tidak diiringi dengan kegemaran dan hanya merupakan bagian dari lambaian tangannya, dimana tidak disertai gerakan/ayunan pantat atau sejenisnya yang bisa menggerakkan syahwat atau menimbulkan syubhat, tarian ini tidak apa-apa, jika memang benar namanya tarian. Apabila terdapat hal-hal selain yang disyaratkan di atas, maka larangan merupakan hukum asal. 

[Disunting dari sebagian jawaban dari pertanyaan Tarian Seorang Wanita dan Laki-laki kepada Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Majalah Al-Ashalah 8/15 Jumadil Akhir 1414 H hal. 73. Edisi Indonesia 25 Fatwa Fadhilatus Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Penerjemah Muhaimin Abu Najiah, Semarang 1995, dan judul artikel oleh admin]
.
***** 
Sumber: almanhaj.or.id 

Subhanakallohumma wa bihamdihi,
Asyhadu an laa ilaaha illa anta, wa astaghfiruka wa atuubu ilaika   
Wa akhiru da'wana, walhamdulillahirobbil 'alamiin

23 Oktober 2017

FILE 362 : Diundang Makan Saat Puasa Sunah, Haruskah Membatalkan Puasa?

Bismillaahirrohmaanirrohiim            
Walhamdulillaah, 
wash-sholaatu wassalamu 'ala Rosulillaah Muhammad Shollalloohu 'alaihi  wa 'alaa aalihi  wa shahbihi  wa sallam      
Wa ba'du
.... .
  Hukum Diundang Makan Saat Puasa Sunnah    
Disusun oleh:
Abu Salma  

Pertanyaan :  
Ustadz, tadi temen bilang kalau lagi puasa sunnah ditawari makan terus berbuka katanya dapat 2 pahala. Apa benar itu?
.
http://azzlam.com/themes/admin/trumbowyg/plugins/upload/uploaded-files/puasa-sunnah-1.jpg
Jawaban :
Saya cari dalil atau istidlal kalau berbuka puasa sunnah karena diundang makan dapat 2 pahala, belum saya dapati. Wallahu a’lam.

Bahkan penjelasan ulama adalah sebagai berikut :

فمن دعي إلى طعام وكان صائماً صوماً غير واجب فالأفضل له أن يفعل ما يراه أصلح

Barangsiapa yang diundang makan-makan sedangkan dia dalam keadaan berpuasa yang bukan wajib (sunnah), maka yang lebih utama adalah ia melakukan apa yang dianggapnya paling bermaslahat dari (pilihan-pilihan berikut) …

من إتمام الصوم مع الامتناع عن إجابة الدعوة،

Menyempurnakan puasa dengan meninggalkan (tidak menghadiri) undangan, 
[Catatan: Terjemahan bagian yang saya warnai BIRU sedikit saya ubah dari artikel asal]

أو إتمام الصوم مع حضور الوليمة والمشاركة بالدعاء لأهلها،

Atau menyempurnakan puasa dengan tetap menghadiri walimah dan ikut serta di dalam mendoakan sang empu acara,

أو إجابة الدعوة وقطع الصوم بالأكل معهم

Ataupun memenuhi undangan dan berhenti dari puasanya dengan ikut makan bersama mereka.

فعن أبي هريرة رضي الله عنه أنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم

Dari Abu Hurairoh Radliyallaahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

إذا دعي أحدكم فليجب، فإن كان صائماً فليصل، وإن كان مفطراً فليطعم” رواه مسلم
Apabila salah seorang dari kalian diundang, maka penuhi undangannya. Apabila ia berpuasa maka “sambunglah”, dan apabila ia tidak berpuasa maka makanlah (HR Muslim)

ومعنى فليصل: فليدع لأهل الطعام بالبركة
 
Artinya, “Maka sambunglah” adalah mendoakan keberkahan sang empu acara  makan-makan tersebut.
.
   عن خرشة بن الحُرِّ قال: كنا عند ابن عمر فأتى بطعام فقال للقوم: اطعموا، فكلهم يقول إني صائم فعزم عليهم أن يفطروا فأفطروا
 
Dari Khursyah bin al-Hurr beliau berkata : kami sedang berada bersama Ibnu 'Umar radliyallaahu 'anhumaa dan dihidangkan makanan. Lalu beliau berkata kepada mereka : makanlah. Namun semuanya menjawab : kami sedang puasa. Lalu beliau memerintahkan mereka untuk berbuka lalu mereka pun berbuka.

عن أبي هريرة أنه قال: إذا دعي أحدكم إلى طعام وهو صائم فليقل: أنا صائم

Dari Abu Hurairoh radliyallaahu 'anhu, beliau berkata : Apabila salah seorang dari kalian diundang makan sedangkan dia berpuasa, maka ucapkan : saya sedang puasa.

فعلم من جملة ما تقدم أن من دعي إلى طعام وهو صائم صياماً غير واجب فليفعل الأصلح من الخيارات الثلاثة
 
Dari penjelasan di atas, maka diketahui bahwa seseorang yang diundang untuk makan sedangkan dia berpuasa, maka hendaknya dia melakukan mana yang paling baik dari 3 (tiga) pilihan tadi.

قال ابن تيمية: (وأعدل الأقوال أنه إذا حضر الوليمة وهو صائم: إن كان ينكسر قلب الداعي بترك الأكل، فالأكل أفضل، وإن لم ينكسر قلبه، فإتمام الصوم أفضل،
 
Ibnu Taimiyah berkata : pendapat yang paling tepat apabila diundang untuk menghadiri walimah sedangkan ia berpuasa adalah :
  • Apabila jika ia tidak ikut makan dapat mematahkan hati sang empu acara, maka ikut makan (batal puasa) adalah lebih baik
  • Apabila tak menyebabkan sang empu acara patah hati, maka melanjutkan puasa adalah lebih baik

ولا ينبغي لصاحب الدعوة الإلحاح في الطعام للمدعو إذا امتنع، فإن كلا الأمرين جائز،
 
Tidak selayaknya sang pengundang memaksa makan orang yang diundang jika ia tidak mau makan, karena kedua hal di atas boleh … 

وعلى كلٍ، فإن من أفطر وهو صائم صوم تطوع لم يلزمه قضاء ذلك اليوم
 
Intinya, apabila seseorang membatalkan  puasa sunnahnya, maka ia tidak diharuskan  mengganti puasa sunnahnya tersebut (qodho').

لقوله صلى الله عليه وسلم: “الصائم المتطوع أمير نفسه إن شاء صام وإن شاء أفطر” رواه أحمد والترمذي،
 
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam: Orang yang berpuasa sunnah itu adalah penentu dirinya, jika ia tetap mau puasa silakan berpuasa, jika ia mau batal (berbuka) silakan batal. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Kesimpulan :
  • Jika Anda diundang makan-makan, maka silakan pilih, mau berbuka silakan, mau terus puasa silakan
  • Namun jika kita tidak makan menyebabkan sang empu acara menjadi sedih, kecewa, dan semisalnya, maka berbuka adalah lebih utama
  • Di sisi lain, jika kita tidak makan tidak berpengaruh terhadap sang empu acara, maka melanjutkan puasa adalah lebih baik
Wallåhu a’lam
*****
Sumber: abusalma.net

[Catatan tambahan dari saya: Sekitar tahun 2009, saya pernah menanyakan secara langsung kepada Ust. Abdul Hakim bin Amir Abdat hafidhahullah saat kajian Kitab Shahih Bukhari di Krukut, Gajah Mada, Jakarta. Pertanyaan saya waktu itu kurang lebih: Apakah orang yang berpuasa sunah wajib membatalkan puasanya apabila diundang makan-makan? Jawaban beliau waktu itu adalah TIDAK WAJIB. Wallahu a'lam]
.
Subhanakallohumma wa bihamdihi,  
Asyhadu an laa ilaaha illa anta, wa astaghfiruka wa atuubu ilaika  
Wa akhiru da'wana, walhamdulillahirobbil 'alamiin