Mau'idhoh

Dari 'Abdulloh bin 'Abbas rodliyallohu 'anhumaa, bahwasanya Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa 'alaa aalihi wa sallam bersabda,

"Jagalah Alloh, Alloh akan menjagamu. Jagalah Alloh, engkau akan mendapatkan-Nya di hadapanmu.

Jika engkau meminta, memintalah kepada Alloh. Dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Alloh.

Ketahuilah, jika seluruh umat bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali dengan apa yang telah Alloh taqdirkan bagimu. Dan jika seluruh umat bersatu untuk memberikan mudhorot kepadamu, niscaya mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali dengan apa yang telah Alloh taqdirkan atasmu. Pena telah diangkat dan catatan telah kerin
g."

(HR. Tirmidzi, dia berkata "Hadits hasan shohih")

16 September 2017

FILE 361 : Ringkasan Tata Cara Berdo'a

Bismillaahirrohmaanirrohiim            
Walhamdulillaah, 

wash-sholaatu wassalamu 'ala Rosulillaah Muhammad Shollalloohu 'alaihi  wa 'alaa aalihi  wa shahbihi  wa sallam      
Wa ba'du
.... .

  Ringkasan Tata Cara Berdo'a     
Disusun oleh:
Yulian Purnama  

Berikut ringkasan tata cara berdoa pada beberapa jenis doa dan beberapa kesempatan yang dianjurkan berdoa. Semoga dapat menambah ilmu kita. 

Doa ketika ada hajat atau permintaan kepada Allah 

Disebut juga doa mas’alah. Merupakan jenis yang umumnya dilakukan dalam berdoa. Bentuk ini juga yang digunakan ketika membaca doa qunut, dan pada beberapa rangkaian ibadah haji. Termasuk juga berdoa ketika seperti malam akhir, berdoa di antara adzan dan iqamat, berdoa ketika i’tikaf dan berdoa pada semua waktu-waktu mustajab secara umum.

Caranya:

  1. Dianjurkan menghadap kiblat
  2. Mengangkat kedua tangannya dengan telapak tangan terbuka di depan dada, tepatnya di pertengahan dada.
  3. Bentuk tangan terdapat beberapa pilihan cara:
    • Kedua telapak tangan dibuka namun keduanya tidak saling menempel, melainkan ada celah diantara keduanya, tidak harus di arahkan ke langit. Ini pendapat Hanafiyah.
    • Telapak tangan mengarah ke langit dan punggung tangan ke arah bumi, boleh ditempelkan ataupun tidak, ini pendapat Syafi’iyyah
    • Telapak tangan mengarah ke langit dan punggung tangan ke arah bumi, keduanya ditempelkan. Ini pendapat Hanabilah
    • Boleh juga seseorang menutup wajahnya dengan telapak tangannya dan kedua punggung tangannya menghadap kiblat, menurut sebagian ulama.
  4. Memuji Allah dan bershalawat kepada Rasulullah
  5. Membaca doa-doa
  6. Tangan kembali seperti semula, tanpa mengusap wajah
Berdoa ketika memiliki hajat yang sangat mendesak, musibah yang besar atau ketika istisqa' 

Caranya: 
  1. Dianjurkan menghadap kiblat
  2. Bersungguh-sungguh mengangkat kedua tangan ke atas dengan sangat tinggi hingga terlihat warna ketiak. Boleh juga hingga punggung tangan menghadap ke langit dan telapaknya menghadap ke bumi.
  3. Memuji Allah dan bershalawat kepada Rasulullah
  4. Membaca doa-doa
  5. Tangan kembali seperti semula, tanpa mengusap wajah
Berdoa setelah shalat wajib 

Berdoa setelah shalat wajib diperselisihkan para ulama apakah ia disyariatkan ataukah tidak. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:


قيل يا رسول الله صلى الله عليه وسلم أي الدعاء أسمع قال جوف الليل الآخر ودبر الصلوات المكتوبات

Ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, kapan doa kita didengar oleh Allah? Beliau bersabda: “Di akhir malam dan di akhir shalat wajib” 
(HR. Tirmidzi, 3499)

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam Zaadul Ma’ad (1/305) menjelaskan bahwa yang dimaksud ‘akhir shalat wajib’ adalah sebelum salam. Dan tidak terdapat riwayat bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabat merutinkan berdoa meminta sesuatu setelah salam pada shalat wajib. 

Ahli fiqih masa kini, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Apakah berdoa setelah shalat itu disyariatkan atau tidak? Jawabannya: tidak disyariatkan. Karena Allah Ta’ala berfirman:
 
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ

.
Jika engkau selesai shalat, berdzikirlah kepada Allah” (QS. An Nisa: 103). Allah berfirman ‘berdzikirlah’, bukan ‘berdoalah’. Maka setelah shalat bukanlah waktu untuk berdoa, melainkan sebelum salam” (Fatawa Ibnu Utsaimin, 15/216).

Namun jika seseorang kebetulan memang memiliki suatu hajat yang ingin ia minta kepada Allah, yang sifatnya tidak rutin namun insidental, boleh berdoa setelah shalat wajib karena termasuk doa mas’alah yang sifatnya mutlak. Maka caranya sebagai berikut: 
  1. Setelah selesai shalat, membaca dzikir-dzikir yang disyariatkan setelah shalat 
  2. Setelah itu membaca doa sebagaimana tata cara pada poin doa mas’alah
Adapun cara berdoa sebelum salam, sebagai berikut:
  1. Setelah selesai membaca tasyahud, membaca doa berlindung dari empat hal: 
    .
    اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَمِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

    Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari siksaan kubur, siksa neraka Jahanam, fitnah kehidupan dan setelah mati, serta dari kejahatan fitnah Almasih Dajjal.” (HR. Bukhari-Muslim)
  2. Setelah itu membaca doa-doa bebas yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, sebanyak-banyaknya. Dalam keadaan masih duduk tasyahud, dan tangan sebagaimana keadaan tangan ketika tasyahud, tidak diangkat.
  3. Jika tidak hafal doa-doa dari Nabi, maka dengan doa-doa bebas asalkan dengan bahasa Arab.
  4. Jika tidak bisa bahasa Arab, Syaikh Abdurrazzaq Al Abbad pernah mengatakan boleh berdoa dengan bahasa Indonesia (bahasa selain Arab).
  5. Setelah itu salam ketika imam salam.
Berdoa dalam khutbah Jum’at dan khutbah dua hari raya 

Bagi khatib Jum’at, cara berdoanya adalah sebagai berikut:
  1. Mengangkat tangan kanan dan jari telunjuk menunjuk ke atas
  2. Memuji Allah dan bershalawat kepada Rasulullah
  3. Membaca doa-doa
  4. Tangan kembali seperti semula, tanpa mengusap wajah
Bagi jama’ah, cara berdoanya sebagai berikut:
  1. Mendengarkan doa khatib, dan tidak perlu mengangkat tangan. Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan: “setiap ibadah yang dilakukan di masa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, jika ketika melakukannya beliau tidak mengangkat kedua tangannya, berarti hal tersebut tidak disyariatkan kepada kita ketika melakukan ibadah tersebut. Ini dalam rangka meneladani Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Contohnya ketika khutbah jum’at, khutbah Ied, doa di antara dua sujud dalam shalat, doa-doa dzikir setelah shalat wajib, karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal tersebut. Yang disyariatkan kepada kita adalah meneladani Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam melakukan suatu atau meninggalkan suatu (dalam ibadah)” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baaz, 26/144).
  2. Mengucapkan “amin” pada setiap doa khatib per kalimatnya, atau cukup sekali di akhir doa. Karena orang yang mengaminkan doa itu dianggap sama seperti orang yang membaca doa.
Berdoa ketika sujud dalam shalat 

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:


أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد . فأكثروا الدعا

.
Seorang hamba berada paling dekat dengan Rabb-nya ialah ketika ia sedang bersujud. Maka perbanyaklah berdoa ketika itu” (HR. Muslim, no.482)

Caranya sebagai berikut:
  1. Membaca dzikir-dzikir ketika sujud
  2. Ketika selesai, membaca doa-doa bebas yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wasallam, sebanyak-banyaknya.
  3. Jika tidak hafal, maka dengan doa-doa bebas asalkan dengan bahasa Arab
  4. Jika tidak bisa bahasa Arab, Syaikh Abdurrazzaq Al Abbad pernah mengatakan boleh berdoa dengan bahasa Indonesia (bahasa selain Arab)
  5. Boleh membaca doa dari ayat Al Qur’an ketika sujud
Berdoa ketika hendak makan dan selesai makan 

Caranya:
  1. Sebelum makan membaca: “Bismillah
  2. Tidak perlu mengangkat tangan
  3. Setelah itu mulai makan.
  4. Jika terlupa membaca “Bismillah“, maka membaca “bismillahi awwalahu wa akhirahu” ketika teringat di tengah makan.
  5. Setelah selesai makan mengucapkan “Alhamdulillah“, atau doa-doa setelah makan lain yang diajarkan Nabi.
Semoga yang sedikit ini bermanfaat. Wabillahi at taufiq was sadaad.

16 Agustus 2017

FILE 360 : Cara dan Kiat Mengobati Was-Was

Bismillaahirrohmaanirrohiim            
Walhamdulillaah, 

wash-sholaatu wassalamu 'ala Rosulillaah Muhammad Shollalloohu 'alaihi  wa 'alaa aalihi  wa shahbihi  wa sallam      
Wa ba'du
.... .

  Mengobati Was-Was    
Disusun oleh:     
Ust. Ammi Nur Baits .
 

Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du,

Salah satu diantara senjata iblis untuk merusak manusia adalah penyakit was-was. Penyakit ini dia sematkan di hati hamba Allah untuk menimbulkan keraguan. Dengan metode ini, setan bisa dengan mudah menggiring seorang muslim untuk mengulang-ulang ibadahnya. 

Ada yang mandi besar sampai sekitar satu jam, ada yang mengulang-ulang gerakan wudhu karena merasa ada bagian yang kering, ada yang berwudhu berkali-kali karena merasa ada yang keluar dari dubur, ada yang buang air kecil setengah jam karena merasa tidak tuntas, ada yang gonta-ganti celana karena merasa ada yang menetes, ada yang mengulang-ulang takbiratul ihram karena merasa belum niat, ada yang membaca Al-Fatihah berulang-ulang dengan susah karena merasa tidak benar, bahkan sampai ada yang teriak-teriak: saya tidak mentalak istri, karena menyangka telah melontarkan kalimat cerai, dst.

Subhanallah…, Anda bisa bayangkan, sungguh betapa malangnya mereka. Untuk bisa melakukan satu ibadah, dia harus susah payah mengulang-ulang karena perasaan tidak tenang. Penyakit was-was selalu menggelayuti hatinya dalam beribadah. Kira-kira, apa tujuan setan dengan godaan semacam ini? 

Kemungkinan besar, tujuannya adalah agar orang itu merasa bosan dan keberatan dalam melakukan ibadah itu, kemudian dia tinggalkan. Atau setidaknya, perbuatan seperti ini termasuk takalluf (membebani diri) yang terlarang. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ


Sesungguhnya agama itu mudah, tidaklah seseorang memberat-beratkan dirinya dalam beragama kecuali dia akan terkalahkan.” 
(HR. Bukhari 39, An-Nasai 5034, dll)

Dan benarlah apa yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap orang yang membebani dirinya dalam beramal, berujung pada sikap bosan atau bahkan membenci amal ibadah. 

Cara Mengobati Was-Was

Setelah kita yakin bahwa penyakit was-was adalah godaan iblis, untuk selanjutnya kita perlu berusaha mencari solusi agar bisa terbebas dari masalah ini.

Ada beberapa saran yang disampaikan ulama untuk mengobati was-was:

Pertama, Tidak peduli 

Obat yang paling mujarab untuk menghilangkan was-was adalah sikap tidak peduli. Tidak mengambil pusing setiap keraguan yang muncul.

Ahmad al-Haitami ketika ditanya tentang penyakit was-was, adakah obatnya? Beliau mengatakan,


له دواء نافع وهو الإعراض عنها جملة كافية ، وإن كان في النفس من التردد ما كان – فإنه متى لم يلتفت لذلك لم يثبت بل يذهب بعد زمن قليل كما جرب ذلك الموفقون , وأما من أصغى إليها وعمل بقضيتها فإنها لا تزال تزداد به حتى تُخرجه إلى حيز المجانين بل وأقبح منهم , كما شاهدناه في كثيرين ممن ابتلوا بها وأصغوا إليها وإلى شيطانها


Ada obat yang paling mujarab untuk penyakit ini, yaitu tidak peduli secara keseluruhan. Meskipun dalam dirinya muncul keraguan yang hebat. Karena jika dia tidak perhatikan keraguan ini, maka keraguannya tidak akan menetap dan akan pergi dengan sendiri dalam waktu yang tidak lama. Sebagaimana cara ini pernah dilakukan oleh mereka yang mendapat taufiq untuk lepas dari was-was. Sebaliknya, orang yang memperhatikan keraguan yang muncul dan menuruti bisikan keraguannya, maka dorongan was-was itu akan terus bertambah, sampai menyebabkan dirinya sepertiorang gila atau lebih parah dari orang gila. Sebagaimana yang pernah kami lihat pada banyak orang yang mengalami cobaan keraguan ini, sementara dia memperhatikan bisikan was-wasnya dan ajakan setannya (al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubro, 1:149).

Kedua, mengambil sikap kebalikannya 

Bentuk tidak mempedulikan perasaan was-was dalam hati adalah dengan mengambil sikap kebalikannya. Misalnya, seorang berwudhu, kemudian muncul keraguan seolah ada yang keluar dari dubur. Untuk mengobati was-was ini, keraguan itu tidak perlu dia perhatikan dan dia yakini wudhunya sah dan dia tidak kentut dan tidak batal sedikitpun. Atau orang yang takbiratul ihram, kemudian muncul keraguan tentang niat, maka dia yakini niatnya sudah benar, dan shalatnya sah. 

Demikian pula kasus orang yang merasa ada yang menetes setelah buang air kecil, ketika hendak shalat. Untuk mengobati penyakit ini, dia yakini bahwa itu bukan air kencing, itu tidak najis, dan wudhu tidak batal. Sehingga dia bisa shalat dengan tenang. Kecuali jika yang terjadi betul-betul meyakinkan, seperti keluar bunyi kentut, atau keluar air kencing dalam jumlah banyak, bukan hanya tetesan, dst. Dalam kondisi ini, anda harus mengulangi.

Ini sebagaimana yang disarankan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam hadis dari Abbad bin Tamim, dari pamannya, bahwa ada seseorang yang pernah mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang penyakit was-was yang dia alami. Dia dibayangi seolah-olah mengeluarkan kentut ketika shalat. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


لاَ يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا

Janganlah dia membatalkan shalatnya, sampai dia mendengar suara kentut atau mencium baunya.” 
(HR. Bukhari 137 dan Muslim 361)

Hadis ini berlaku bagi orang yang mengalami penyakit was-was, merasa keluar sesuatu terutama ketika shalat. Dia disarankan mengambil sikap yang berkebalikan dengan keraguannya, kecuali jika dia sangat yakin bahwa itu memang betul-betul terjadi.

Ketiga, Terus Berlatih dengan Sabar

Untuk bisa menghilangkan penyakit was-was ini, tidak mungkin hanya dilakukan sekali. Perlu banyak latihan dan bersabar untuk selalu cuek dengan keraguan yang muncul. Sampai gangguan itu betul-betul hilang.

Salah satu motivasi yang bisa dia tumbuhkan dalam hatinya, yakini bahwa ini bisikan setan, dan usahanya untuk menghilangkan godaan ini adalah dalam rangka melawan setan. Ahmad al-Haitami menukil keterangan al-Iz bin Abdus Salam dan ulama lainnya,


وذكر العز بن عبد السلام وغيره نحو ما قدمته فقالوا : دواء الوسوسة أن  يعتقد أن ذلك خاطر شيطاني , وأن إبليس هو الذي أورده عليه وأنه يقاتله , فيكون له ثواب المجاهد ;لأنه يحارب عدو الله , فإذا استشعر ذلك فر عنه


Al-Iz bin Abdus Salam dan ulama lainnya juga menjelaskan sebagaimana yang telah aku sebutkan. Mereka menyatakan, “Obat penyakit was-was: hendaknya dia meyakini bahwa hal itu adalah godaan setan, dan dia yakin bahwa yang mendatangkan itu adalah iblis, dan dia sedang melawan iblis. Sehingga dia mendapatkan pahala orang yang berjihad. Karena dia sedang memerangi musuh Allah. Jika dia merasa ada keraguan, dia akan segera menghindarinya..” (al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubro, 1:150).

Anda yang mengidap was-was sedang berada dalam ujian. Jika perjuangan melawan godaan ini disertai perasaan ikhlas karena Allah dan mencontoh sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti hadis di atas maka insyaaAllah nilainya pahala.

Keempat, banyak berlindung dari godaan setan

Karena godaan ini bersumber dari setan, obat yang tidak kalah penting, banyak berlindung dari godaan setan. Dari sahabat Utsman bin Abul Ash radliyallaahu 'anhu, bahwa beliau mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengadukan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya setan telah menghalangi aku dengan shalatku (tidak bisa khusyu), dan bacaan shalatnya sampai keliru-keliru.’ Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خَنْزَبٌ، فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْهُ، وَاتْفِلْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلَاثًا

Itulah setan, namanya Khanzab. Jika engkau merasa sedang digoda setan maka mintalah perlilndungan kepada Allah darinya, dan meludahlah ke arah kiri 3 kali.” 

Utsman mengatakan, ‘Aku pun melakukan saran beliau dan Allah menghilangkan gangguan itu dariku.’ (HR. Muslim 2203)

Salah satu diantara usaha melindungi diri dari setan adalah merutinkan dzikir pagi dan sore. Karena salah satu keutamaan merutinkan dzikir ini adalah perlindungan dari semua godaan setan.

Kelima, pelajari cara ibadah yang benar

Karena sebagian besar orang yang mengidap penyakit was-was adalah mereka yang tidak memiliki pemahaman yang benar tentang tata cara ibadah yang benar. Kemudian dia beribadah sesuai perasaannya. Apa yang dia rasakan mantep, itu yang dianggap benar, meskipun bisa jadi bertentangan dengan ajaran syariat.

Berbeda dengan orang yang memahami tata cara ibadah dengan benar. Semua yang akan dia lakukan, telah disesuaikan dengan standar sunnah yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga dia bisa sangat yakin, bahwa amal ibadah yang dia lakukan telah benar.

Ahmad al-Haitami mengatakan,


وبه تعلم صحة ما قدمته أن الوسوسة لا تُسلط إلا على من استحكم عليه الجهل والخبل وصار لا تمييز له , وأما من كان على حقيقة العلم والعقل فإنه لا يخرج عن الاتباع ولا يميل إلى الابتداع . وأقبح المبتدعين الموسوسون 
ومن ثم قال مالك – رحمه الله – عن شيخه ربيعة – إمام أهل زمنه – : كان ربيعة أسرع الناس في أمرين في الاستبراء والوضوء , حتى لو كان غيره – قلت : ما فعل . (لعله يقصد بقوله : ( ما فعل ) أي لم يتوضأ)


Dari keterangan di atas, anda bisa mengetahui apa yang telah aku sampaikan, bahwa was-was hanya akan mendatangi orang yang diliputi kebodohan dan tidak paham, sehingga menjadi orang yang tidak punya kemampuan untuk membedakan. Sementara orang yang berada di atas ilmu dan akal yang hakiki maka dia tidak akan keluar dari ittiba’ (mengikuti sunah) dan tidak cenderung ke bid’ah. Ahli bid’ah yang yang paling jelek adalah adalah orang yang terjangkiti penyakit was-was. 

Karena itulah, Imam Malik pernah bercerita tentang gurunya, Rabi’ah – ulama besar Madinah – bahwa beliau adalah orang paling cepat dalam melakukan dua hal: buang air kecil dan berwudhu. Sehingga andaikan itu dilakukan oleh orang lain, niscaya akan aku (Imam Malik) katakan, ‘Dia belum melakukannya’.  Yang dimaksud Imam Malik ‘dia belum melakukannya’ adalah belum dianggap berwudhu. (al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubro, 1/150).

Disamping semua usaha di atas, jangan lupa banyak berdoa kepada Allah, memohon dengan bahasa yang anda pahami, agar Allah membebaskan anda dari penyakit akut semacam ini. Semoga Allah memudahkan kita untuk meniti jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allahu a’lam 
*****
Sumber: konsultasisyariah.com
Subhanakallohumma wa bihamdihi,  
Asyhadu an laa ilaaha illa anta, wa astaghfiruka wa atuubu ilaika  
Wa akhiru da'wana, walhamdulillahirobbil 'alamiin

23 Juli 2017

FILE 359 : Bagaimana Posisi Kedua Telapak Kaki Ketika Sujud?

Bismillaahirrohmaanirrohiim            
Walhamdulillaah, 

wash-sholaatu wassalamu 'ala Rosulillaah Muhammad Shollalloohu 'alaihi  wa 'alaa aalihi  wa shahbihi  wa sallam      
Wa ba'du
.... .

  Posisi Kaki Saat Sujud   
Dijawab oleh:    
Ustadz Ammi Nur Baits .
 
.
Bagaimana posisi kaki yang benar ketika sujud?
 
Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ulama berbeda pendapat mengenai posisi kaki saat sujud. Apakah tumit dirapatkan ataukah sejajar dengan lutut, direnggangkan?

Pertama, dianjurkan untuk merenggangkan kedua kaki dan tidak merapatkan tumit. Ini merupakan pendapat syafi'iyah dan hambali.

An-Nawawi mengatakan,

قال أصحابنا ويستحب أن يفرق بين القدمين قال القاضي أبو الطيب قال أصحابنا يكون بينهما شبر


Para ulama madzhab syafi'iyah mengatakan, dianjurkan untuk memisahkan  kedua kaki. Al-Qadhi Abu Thib mengatakan, para ulama madzhab kami menganjurkan, jarak kedua kaki sekitar satu jengkal. (Raudhatut Thalibin, 1/259).

Kedua, dianjurkan untuk merapatkan kedua kaki dan tumit ketika sujud. Ini merupakan pendapat Hanafiyah. (Hasyiyah Ibnu Abidin, 1/233)

Pendapat yang Lebih Kuat

Pendapat yang lebih tepat dalam hal ini adalah dianjurkan untuk merapatkan kedua tumit ketika sujud. Karena posisi ini yang lebih mendekati dalil.

Aisyah bercerita,

فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَيْلَةً مِنَ الْفِرَاشِ فَالْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِى عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِى الْمَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ


Suatu malam, aku kehilangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tempat tidur. Lalu aku mencari-cari, dan tanganku mengenai kedua telapak kaki Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang sujud di masjid… (HR. Ahmad 25655, Muslim 1118 dan yang lainnya).

Dalam riwayat lain, Aisyah mengatakan,

فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَكَانَ مَعِي عَلَى فِرَاشِي فَوَجَدْتُهُ سَاجِدًا رَاصَّا عَقِبَيهِ مُسْتَقْبِلًا بِأَطرَافِ أَصَابِعِهِ لِلقِبْلَة


Aku kehilangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebelumnya bersamaku di tempat tidur. Lalu aku dapati beliau sedang sujud, merapatkan kedua tumitnya, menghadapkan jari-jari kaki ke kiblat. (HR. Ibnu Hibban 1933 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Tangan Aisyah, tangan seorang wanita. Hanya akan mungkin bisa mengenai kedua kaki, jika kedua kaki itu dirapatkan. Jika kedua kaki direnggangkan, satu tangan tidak mungkin bisa mengenai dua kaki.

Catatan:
Perbedaan ini hanya dalam masalah afdhaliyah, artinya mana yang paling afdhal (utama) dan yang lebih sesuai sunnah. Jika ada orang yang shalat dan posisi kakinya renggang, shalatnya sah menurut mereka yang berpendapat dianjurkan untuk merapatkan kaki. Dan sebaliknya.

Allahu a’lam.

*****
Sumber: konsultasisyariah.com
Subhanakallohumma wa bihamdihi,  
Asyhadu an laa ilaaha illa anta, wa astaghfiruka wa atuubu ilaika  
Wa akhiru da'wana, walhamdulillahirobbil 'alamiin

19 Juni 2017

FILE 358 : Masjid yang Ideal, Sederhana tapi Berkualitas

Bismillaahirrohmaanirrohiim            
Walhamdulillaah, 

wash-sholaatu wassalamu 'ala Rosulillaah Muhammad Shollalloohu 'alaihi  wa 'alaa aalihi  wa shahbihi  wa sallam      
Wa ba'du
....
.

  Masjid yang Sederhana, Namun Berkualitas   

Disusun oleh:  
Syaikh Husein al-‘Uwaisyah [1] 
..
Penglihatan kita sudah sangat familiar dengan masjid besar, megah dan penuh dengan berbagai ornamen penghias dilengkapi dengan fasilitas yang memanjakan badan, mulai dari permadani yang empuk dan AC yang menyejukkan ruangan masjid. Ini sudah biasa. 

Lalu, bagaimanakah perasaan kita tatkala melihat sebuah masjid yang kecil, sederhana tanpa ada ornamen yang membuatnya indah sebagaimana yang biasa kita lihat? Bangunan yang penuh dengan kesederhanaan, seakan biaya pembangunannya sangat sedikit atau “kurang”.

Apa yang akan kita lakukan terhadap masjid seperti ini? Akankah kita merangkai kata yang akan kita sampaikan dalam ceramah-ceramah atau dituliskan dalam selebaran yang disebar sehingga membuat orang yang melihat dan membacanya berurai air mata??? Ataukah kita berpaling darinya dan enggan melakukan ibadah di sana?? 

Tindakan manapun yang kita lakukan dari dua contoh tindakan di atas merupakan tindakan yang keliru.
.
BAGAIMANAKAH KEADAAN MASJID NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM? 

Agar kita bisa bersikap dengan benar, kita harus mengetahui kondisi masjid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Ternyata, bangunan masjid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bangunan yang sangat sederhana, atapnya dari pelepah kurma dan terkadang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersujud di masjid di atas tanah bercampur air.

Diriwayatkan dari Abu Salamah Radhiyallahu ;anhu, dia mengatakan, “Saya berangkat menuju Abu Sa’id al-Khudriy, lalu mengatakan, ‘Maukah engkau keluar bersama kami ke bawah pohon kurma untuk bercakap-cakap?’ Dia keluar, lalu Abu Salamah Radhiyallahu 'anhu mengatakan, ‘Sampaikanlah kepada kami hadits yang engkau dengar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang lailatul Qadr. 

Abu Sa’id Radhiyallahu 'anhu mengatakan, ‘Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan i’tikaf pada sepuluh pertama bulan Ramadhan dan kami juga ikut beri’tikaf bersama Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu malaikat Jibril 'Alaihissalaam datang kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan, ‘Sesungguhnya apa yang engkau minta ada dihadapanmu.’ 

Maka (setelah itu), Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan i’tikaf pada sepuluh hari pertengahan (bulan Ramadhan).’ Lalu kami juga ikut beri’tikaf bersama Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu malaikat Jibril 'Alaihissallam datang kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan, ‘Sesungguhnya apa yang engkau minta ada dihadapanmu.’

Pagi hari, pada tanggal 20 bulan Ramadhan, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di atas mimbar dan bersabda:

مَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلْيَرْجِعْ فَإِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَإِنِّي نُسِّيتُهَا وَإِنَّهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي وِتْرٍ وَإِنِّي رَأَيْتُ كَأَنِّي أَسْجُدُ فِي طِينٍ وَمَاء

Barangsiapa yang beri’tikaf bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka hendaklah dia pulang! Karena sesungguhnya saya pernah diperlihatkan lailatul Qadr lalu saya dibuat lupa. Sesungguhnya lailatul Qadr itu ada pada malam ganjil sepuluh hari terakhir. Dan sesungguhnya saya melihat seakan saya sujud di atas tanah dan air. 

Ketika itu atap masjid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terbuat dari pelepah kurma, kami tidak melihat ada tanda-tanda (akan hujan) sedikitpun di langit, lalu tiba-tiba muncul gumpalan awan dan kami diguyur hujan. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan shalat bersama kami sehingga kami bisa melihat bekas tanah dan air di kening dan ujung Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bentuk pembenaran mimpi Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam .[2] 

Dalam hadits riwayat Imam Muslim rahimahullah, disebutkan bahwa Abu Sa’id al-Khudriy Radhiyallahu anhu mengatakan:

 فَمَطَرَتْ حَتَّى سَالَ سَقْفُ الْمَسْجِدِ وَكَانَ مِنْ جَرِيدِ النَّخْلِ وَأُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْجُدُ فِي الْمَاءِ وَالطِّينِ

Lalu hujan turun sehingga air hujan mengaliri atap masjid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ketika itu terbuat dari pelepah kurma, lalu didirikan shalat, maka saya melihat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud di atas air dan tanah 

Dalam hadits di atas disebutkan bahwa atap masjid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terbuat dari pelepah kurma, sehingga air bisa masuk ke masjid ketika hujan turun dan menyebabkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat Radliyallaahu 'anhum sujud di atas tanah dan air. 
.

BAGAIMANAKAH RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM MENYURUH PARA SAHABATNYA KETIKA MEMBANGUN MASJID NABI SHALLALLAHU  ‘ALAIHI WA SALLAM TERSEBUT? 

Dijelaskan bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ابْنُوهُ عَرِيشًا كَعَرِيشِ مُوسَى

Bangunlah masjid ini sebagaimana ‘arisy [3] Nabi Musa [4] 

Padahal ketika itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa saja memerintahkan para Sahabatnya Radlyallaahu 'anhum untuk membangun masjid itu seperti istana yang penuh ornamen penghias. Namun, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meminta itu, padahal Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mampu melakukannya, maka tentu meninggalkan itu lebih baik dan itu sama dengan mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (sunnah), mendatangkan kebaikan, keberkahan dan keselamatan. Karena sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma, dia mengatakan, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَتُزَخْرِفُنَّهَا كَمَا زَخْرَفَتْ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى

Sungguh kalian akan menghiasi masjid-masjid itu sebagaimana orang Yahudi dan Nashara telah menghiasi (tempat ibadah mereka)[5] 

Dari Anas Radhiyallahu 'anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهَى النَّاسُ فِى الْمَسَاجِدِ

Kiamat tidaklah terjadi hingga manusia berbangga-bangga dalam membangun masjid [6] 

Inilah yang sedang kita saksikan dan lihat saat ini. Banyak kaum Muslimin yang membangga-banggakan dan berlomba-lomba dalam menghiasi dan mempercantik masjid-masjid mereka, padahal keutamaan membangun masjid akan didapatkan oleh siapapun juga selama dia ikhlas karena Allâh 'Azza wa Jalla, sekalipun masjid yang dibangunnya kecil.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ لبيضها بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ

Barangsiapa membangun masjid karena Allâh walaupun hanya seukuran lubang tempat burung bertelur, maka Allâh bangunkan baginya (rumah) di surga.[7]

Mafhash qathaah dalam hadits di atas artinya lubang yang dipakai oleh burung untuk menaruh telur dan menderum di tempat tersebut. Qathah adalah sejenis burung.

Dari Jabir Radhiyallahu 'anhu, dia mengatakan, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أو أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ

Barangsiapa membangun masjid karena Allâh walaupun hanya seukuran lubang tempat burung bertelur atau lebih kecil dari itu, maka Allâh akan bangunkan baginya (rumah) di surga [8] 

Umar bin Khatthab Radhiyallahu 'anhu ketika memerintahkan untuk membangun masjid, beliau Radhiyallahu anhu mengatakan:

أَكِنَّ النَّاسَ مِنْ الْمَطَرِ وَإِيَّاكَ أَنْ تُحَمِّرَ أَوْ تُصَفِّرَ فَتَفْتِنَ النَّاسَ

Jadikanlah ia bangunan yang bisa melindungi manusia dari hujan! Jangan kamu warnai dengan warna merah atau kuning agar engkau tidak menfitnah manusia [9]

Anas Radhiyallahu 'anhu mengatakan, “Mereka merasa bangga dengan masjid-masjid, namun mereka tidak memakmurkan, kecuali sedikit saja.”
.

APA YANG DIHASILKAN OLEH MASJID NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM? 

Setelah membaca keterangan di atas, terbayang dibenak kita, Masjid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebuah masjid yang sangat sederhana. Namun dari bangunan yang sederhana itulah, Islam berjaya dan dikenal di seluruh penjuru dunia.

Bukankah masjid yang sederhana itu telah melahirkan para tokoh-tokoh Sahabat Radhiyallahu 'anhum ?

Bukankah dari bangunan sederhana itu keluar para pejuang Islam yang telah menaklukkan berbagai negeri yang menghalangi dakwah Islam? 

Dari pendidikan di masjid itu terlahir para komandan Islam yang disegani. Dan dari masjid yang minim fasilitas itu, cahaya Islam terpancar ke seluruh alam. 

Itulah masjid yang mengajarkan kepada kaum Muslimin tentang praktek î’tsâr (prilaku yang lebih mendahulukan orang lain daripada dirinya sendiri dalam masalah dunia-red), cinta kasih, pengorbanan, ketegaran, kebahagiaan dan hal-hal positif lainnya. 

Itulah masjid yang sangat memperhatikan pendidikan dan pembersihan jiwa kaum Muslimin. Sangat perhatian dengan perkembangan bathin, perhatian dengan inti dan perhatian kepada manusia, (bukan fisik bangunan-red). 

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kehancuran menimpa umat yang sangat perhatian dengan tembok bangunan, namun melupakan kaum Muslimin; juga sangat perhatian dengan masalah perhiasan dan ornamen, namun mengabaikan sisi pendidikan akhlak dan prilaku.

Jika faktanya benar seperti ini, maka alangkah menyedihkan! 

Sekarang dibanyak tempat, kita dapati bangunan-bangunan masjid itu besar dan megah, lantainya dilapisi permadani indah mempesona dan empuk, atapnya kokoh dan kuat, kedap air sehingga tidak bocor ketika hujan turun, walaupun hanya setetes. Tidak hanya itu, AC yang terpasang di sana menghembuskan udara dingin atau sejuk yang memanjakan badan.

Kita tidak usah berbicara tentang biaya pembangunan, karena bisa dipastikan biayanya besar. Adapun tentang ornamen penghias masjid, maka lihatlah betapa indah dan betapa banyaknya. Seakan ornamen penghias itu menjadi bagian terpenting dari sebuah bangunan masjid atau seakan-akan pernak-pernik perhiasan itu menjadi sarana untuk menarik manusia agar mau berangkat ke masjid dan betah di sana.

Ironisnya, jika kita datang melihat lalu menghitung jumlah shaf orang yang melakukan shalat Shubuh atau shalat-shalat lainnya di masjid-masjid itu, maka kita tidak perlu menguras banyak tenaga untuk melakukannya, karena jumlahnya tidak banyak. 

Lebih menakjubkan lagi, jika kita membandingkan antara generasi yang tumbuh berkembang di masjid yang penuh perhiasan serta kenyamanan dengan generasi para Sahabat yang mereka dahulu sujud di atas tanah atau di atas tanah bercampur air hujan, kita dapati generasi yang tumbuh dalam masjid yang indah nan nyaman itu sangat berbeda dengan generasi pendahulu mereka, bahkan terkadang kita dibuat tidak percaya mereka itu generasi Islam. Mereka generasi yang ingin meraih surga bahkan surga tertinggi yaitu Firdaus, namun mereka tidak mau pakaian mereka terkena debu atau tidak mau tertusuk duri atau tidak mau bersusah payah. 

Kita sering mendengar tentang akhlak îtsâr (yaitu perilaku yang lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri dalam urusan dunia-red), menepati janji, semangat berkorban dan berbagai kisah menarik lainnya, namun kedua mata kita jarang sekali melihatnya dalam dunia nyata. Ini mengingatkan kita terhadap firman Allâh 'Azza wa Jalla :

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan 
[QS. Ash-Shaff/61 :3] 

(Semoga saja mereka menyembunyikan perbuatan-perbuatan baik mereka demi menjaga keikhlasan dan ketulusan jiwa mereka dalam beramal-red) 

Alangkah banyaknya ucapan yang keluar dari lisan kita, namun amal baik kita sangat sedikit.

Dan alangkah sedikitnya ucapan para Sahabat, namun amal baik mereka begitu banyak dan melimpah.

(Semoga Allâh Azza wa Jalla menjadikan kita termasuk generasi yang berantusias dan siap mengikuti generasi para Sahabat dalam melakukan berbagai kebaikan yang diajarkan Islam.-red) 

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XIX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Diangkat dari kitab beliau Fiqhud Dakwah Wa Tazkiyatun Nafsi, hlm. 544-547
[2] HR. Al-Bukhâri, no. 812dan Muslim, no. 1167
[3] ‘arîsy : segala yang dipakai berteduh yang jika orang yang berteduh mengangkat tangannya maka tangannya bisa menyentuh atap
[4] HR. Ibnu Abi Dunya, Ibnu Abi Syaibah dan yang lainnya. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Ash-Shahîhah, no. 616
[5] HR. Abu Daud. Lihat, Shahîh Abi Daud, no. 431. Imam al-Bukhari rahimahullah menyebutkan perkataan ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma itu secara mu’allaq dalam Kitab Shalat, Bab Bunyanul Masâjid
[6] HR. Abu Daud. Lihat, Shahîh Abi Daud, no. 432
[7] HR. Ahmad dan al-Bazzar. Dan hadits ini dihukumi shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb, no. 272)
[8]  HR. Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahîh beliau dan Syaikh al-Albani rahimahullah menilainya sebagai hadits shahih dalam kitab Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb, no. 271)
[9] Disebutkan oleh Imam al-Bukhâri secara mu’allaq dengan menggunakan lafazh yang tegas, Kitab Shalat, Bab Bunyanul Masâjid


*****
Sumber: almanhaj.or.id
 
Artikel Terkait:
Subhanakallohumma wa bihamdihi,  
Asyhadu an laa ilaaha illa anta, wa astaghfiruka wa atuubu ilaika  
Wa akhiru da'wana, walhamdulillahirobbil 'alamiin