Mau'idhoh

Dari 'Abdulloh bin 'Abbas rodliyallohu 'anhumaa, bahwasanya Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa 'alaa aalihi wa sallam bersabda,

"Jagalah Alloh, Alloh akan menjagamu. Jagalah Alloh, engkau akan mendapatkan-Nya di hadapanmu.

Jika engkau meminta, memintalah kepada Alloh. Dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Alloh.

Ketahuilah, jika seluruh umat bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali dengan apa yang telah Alloh taqdirkan bagimu. Dan jika seluruh umat bersatu untuk memberikan mudhorot kepadamu, niscaya mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali dengan apa yang telah Alloh taqdirkan atasmu. Pena telah diangkat dan catatan telah kerin
g."

(HR. Tirmidzi, dia berkata "Hadits hasan shohih")

01 Agustus 2010

FILE 176 : Pasien Terakhir

Bismillahirrohmanirrohim

Walhamdulillah, wash-sholaatu wassalamu 'ala Rosulillah Shollallohu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam

Wa ba'du

……

Pasien Terakhir

.

Untuk kedua kalinya wanita itu pergi ke dokter Hanung, seorang dokter spesialis kulit dan kelamin di kota Bandung. Sore itu ia datang sambil membawa hasil laboratorium seperti yang diperintahkan dokter dua hari sebelumnya. Sudah beberapa Minggu dia mengeluh merasa sakit pada waktu buang air kecil (drysuria) serta mengeluarkan cairan yang berlebihan dari vagina (vaginal discharge).

Sore itu suasana di rumah dokter penuh dengan pasien. Seorang anak tampak menangis kesakitan karena luka di kakinya, kayaknya dia menderita Pioderma. Di sebelahnya duduk seorang ibu yang sesekali menggaruk badannya karena gatal. Di ujung kursi tampak seorang remaja putri melamun, merenungkan akne vulgaris (jerawat) yang ia alami.

Ketika wanita itu datang dia mendapat nomor terakhir. Ditunggunya satu per satu pasien yang berobat sampai tiba gilirannya. Ketika gilirannya tiba, dengan mengucap salam dia memasuki kamar periksa dokter Hanung. Kamar periksa itu cukup luas dan rapi. Sebuah tempat tidur pasien dengan penutup warna putih. Sebuah meja dokter yang bersih. Di pojok ruang sebuah wastafel untuk mencuci tangan setelah memeriksa pasien serta kotak yang berisi obat-obatan.

Sejenak dokter Hanung menatap pasiennya. Tidak seperti biasa, pasiennya ini adalah seorang wanita berjilbab rapat. Tidak ada yang kelihatan kecuali sepasang mata yang menyinarkan wajah duka. Setelah wawancara sebentar (anamnese) dokter Hanung membuka amplop hasil laboratorium yang dibawa pasiennya. Dokter Hanung terkejut melihat hasil laboratorium. Rasanya adalah hal yang mustahil. Ada rasa tidak percaya terhadap hal itu. Bagaimana mungkin orang berjilbab yang tentu saja menjaga kehormatannya terkena penyakit itu, penyakit yang hanya mengenai orang yang sering berganti-ganti pasangan sexual.

Dengan wajah tenang dokter Hanung melakukan anamnese lagi secara cermat.

+ "Saudari masih kuliah?"

* "Masih dok."

+ "Semester berapa?"

* "Semester tujuh dok!"

+ "Fakultasnya?"

* "Sospol!"

+ "Jurusan komunikasi massa ya?"

Kali ini ganti pasien terakhir itu yang kaget. Dia mengangkat muka dan menatap dokter Hanung dari balik cadarnya.

* "Kok dokter tahu?"

+ "Aah........ tidak, hanya barangkali saja!"

Pembicaraan antara dokter Hanung dengan pasien terakhirnya itu akhirnya seakan.-akan beralih dari masalah penyakit dan melebar kepada persoalan lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah penyakitnya itu.

* "Saudari memang penduduk Bandung ini atau dari luar kota?"

Pasien terakhir itu tampaknya mulai merasa tidak enak dengan pertanyaan dokter yang mulai menyimpang dari masalah-masalah medis itu. Dengan jengkel dia menjawab.

* "Ada apa sih Dok...., kok tanya macam-macam?"

+ "Aah enggak..., barangkali saja ada hubungannya dengan penyakit yang saudari derita."

Pasien terakhir itu tampaknya semakin jengkel dengan pertanyaan dokter yang kesana-kemari itu. Dengan agak kesal dia menjawab.

* "Saya dari Pekalongan."

+ "Kost-nya?"

* "Wisma Fathimah, jalan Alex Kawilarang 63."

+ "Di kampus sering mengikuti kajian Islam yaa."

* "Ya, ... kadang-kadang, Dok!"

+ "Sering mengikuti kajian Bang Jalal?"

Sekali lagi pasien terakhir itu menatap dokter Hanung.

* "Bang Jalal siapa?" Tanyanya dengan nada yang agak tinggi.

+ "Tentu saja Jalaluddin Rahmat! Di Bandung siapa lagi Bang Jalal selain dia..... kalau di Yogya ada Bang Jalal Muksin."

* "Yaa... kadang-kadang saja saya ikut."

+ "Di Pekalongan..., (sambil seperti mengingat-ingat) kenal juga dengan Ahmad Baraqba?"

Pasien terakhir itu tampak amat terkejut dengan pertanyaan yang terakhir itu, tetapi dia segera menjawab.

* "Tidak! Siapa yang dokter maksudkan dengan nama itu dan apa hubungannya dengan penyakit saya?"

Pasien terakhir itu tampak semakin jengkel dengan pertanyaan-pertanyaan dokter yang semakin tidak mengarah itu. Tetapi justru dokter Hanung manggut-manggut dengan keterkejutan pasien terakhirnya. Dia menduga bahwa penelitian penyakit pasiennya itu hampir selesai.

Akhirnya dengan suara yang penuh dengan tekanan dokter Hanung berkata,

+ "Begini saudari, saya minta maaf atas pertanyaan-pertanyaan saya yang ngelantur tadi, sekarang tolong jawab pertanyaan saya dengan jujur demi untuk therapi penyakit yang saudari derita..."

Sekarang ganti pasien terakhir itu yang mengangkat muka mendengar perkataan dokter Hanung. Dia seakan terbengong dengan pertanyaan apa yang akan dilontarkan oleh dokter yang memeriksanya kali ini.

+ "Sebenarnya saya amat terkejut dengan penyakit yang saudari derita, rasanya tidak mungkin seorang ukhti mengidap penyakit seperti ini."

* "Sakit apa dok?"

Pasien terakhir itu memotong kalimat dokter Hanung yang belum selesai dengan amat penasaran.

+ "Melihat keluhan yang anda rasakan serta hasil laboratorium semuanya menyokong diagnosis Gonorhoe, penyakit yang disebabkan karena hubungan sexual."

Seperti disambar gledek perempuan berjilbab biru dan berhijab itu, pasien terakhir dokter Hanung sore itu berteriak,

* "Tidak mungkin!!!"

Dia lantas terduduk di kursi, lemah seakan tak berdaya, mendengar keterangan dokter Hanung. Pandang matanya kosong seakan kehilangan harapan dan bahkan seperti tidak punya semangat hidup lagi.

Sementara itu pembantu dokter Hanung yang biasa mendaftar pasien yang akan berobat tampak mondar-mandir seperti ingin tahu apa yang terjadi. Tidak seperti biasanya dokter Hanung memeriksa pasien begitu lama seperti sore ini. Barangkali karena dia pasien terakhir sehingga merasa tidak terlalu tergesa-gesa maka pemeriksaannya berjalan agak lama. Tetapi kemudian dia terkejut mendengar jerit pasien terakhir itu sehingga ia merasa ingin tahu apa yang terjadi.

Dokter Hanung dengan pengalamannya selama praktek tidak terlalu kaget dengan reaksi pasien terakhirnya sore itu. Hanya yang dia tidak habis pikir itu kenapa perempuan berjilbab rapat itu mengidap penyakit yang biasa menjangkiti perempuan-perempuan rusak. Sudah dua pasien dia temukan akhir-akhir ini yang mengidap penyakit yang sama dan uniknya sama-sama mengenakan busana muslimah. Hanya yang pertama dahulu tidak mengenakan hijab penutup muka seperti pasien yang terakhirnya sore hari itu. Dulu pasien yang pernah mengidap penyakit yang seperti itu juga menggunakan pakaian muslimah, ketika didesak akhirnya dia mengatakan bahwa dirinya biasa kawin mut'ah. Pasiennya yang dahulu itu telah terlibat jauh dengan pola pikir dan gerakan Syi'ah yang ada di Bandung ini. Dari pengalaman itu timbul pikirannya menanyakan macam-macam hal mengenai tokoh-tokoh Syi'ah yang pernah dia kenal di kota Kembang ini dan juga kebetulan mempunyai seorang teman dari Pekalongan yang menceritakan perkembangan gerakan Syi'ah di Pekalongan. Beliau bermaksud untuk menyingkap tabir yang menyelimuti rahasia perempuan yang ada di depannya sore itu.

+ "Bagaimana saudari...,. penyakit yang anda derita ini tidak mengenai kecuali orang-orang yang biasa berganti-ganti pasangan seks. Rasanya itu tidak mungkin terjadi pada seorang muslimah seperti diri anda. Kalau itu masa lalu saudari baiklah saya memahaminya dan semoga dapat sembuh, bertaubatlah kepada Allah...., atau mungkin ada kemungkinan lain....?"

Pertanyaan dokter Hanung itu telah membuat pasien terakhirnya mengangkat muka sejenak, lalu menunduk lagi seperti tidak meniliki cukup kekuatan lagi untuk berkata-kata. Dokter Hanung dengan sabar menanti jawaban pasien terakhirnya sore itu. Beliau beranjak dari kursi memanggil pembantunya agar mengemasi peralatan untuk segera tutup setelah selesai menangani pasien terakhirnya itu.

* "Saya tidak percaya dengan perkataan dokter tentang penyakit saya!" Katanya terbata-bata.

+ "Terserah saudari..., tetapi toh anda tidak dapat memungkiri kenyataan yang anda sandang-kan?"

* "Tetapi bagaimana mungkin saya mengidap penyakit laknat tersebut sedangkan saya selalu berada di dalam suasana hidup yang thaat kepada hukum Allah?"

+ "Saya pun berprasangka baik demikian terhadap diri anda…, tetapi kenyataan yang anda hadapi itu tidak dapat dipungkiri?"

Sejenak dokter dan pasien itu terdiam. Ruang periksa itu sepi. Kemudian terdengar suara dari pintu yang dibuka pembantu dokter yang mengemasi barang-barang peralatan administrasi pendaftaran pasien. Pembantu dokter itu lantas keluar lagi dengan wajah penuh dengan tanda tanya mengetahui dokter Hanung yang menunggui pasien terakhirnya itu.

+ "Cobalah instrospeksi diri lagi, barangkali ada yang salah..., sebab secara medis tidak mungkin seseorang mengidap penyakit ini kecuali dari sebab tersebut."

* "Tidak dokter..., selama ini saya benar-benar hidup secara baik menurut tuntunan syari'at Islam…, saya tetap tidak percaya dengan analisa dokter."

Dokter Hanung mengerutkan keningnya mendengar jawaban pasien terakhirnya itu. Dia tidak merasa sakit hati dengan perkataan pasiennya yang berulang kali mengatakan tidak percaya dengan analisanya. Untuk apa marah kepada orang sakit. Paling juga hanya menambah parah penyakitnya saja, dan lagi analisanya toh tidak menjadi salah hanya karena disalahkan oleh pasiennya. Dengan penuh kearifan dokter itu bertanya lagi…,

+ "Barangkali anda biasa kawin mut'ah?"

Pasien terakhir itu mengangkat muka.

* "Iya dokter! Apa maksud dokter?"

+ "Itu kan berarti anda sering kali ganti pasangan seks secara bebas."

* "Lho...., tapi itu kan benar menurut syari'at Islam dok!"

Pasien terakhir itu membela diri.

+ "Ooo...., jadi begitu...., kalau dari tadi anda mengatakan begitu saya tidak bersusah payah mengungkapkan penyakit anda. Tegasnya anda ini pengikut ajaran Syi'ah yang bebas berganti-ganti pasangan mut'ah semau anda. Ya itulah petualangan seks yang anda lakukan. Hentikan itu kalau anda ingin seiamat."

* "Bagaimana dokter ini, saya kan hidup secara benar menurut syari'at Islam sesuai dengan keyakinan saya, dokter malah melarang saya dengan dalih-dalih medis."

Sampai di sini dokter Hanung terdiam. Sepasang giginya terkatup rapat dan dari wajahaya terpancar kemarahan yang sangat terhadap perkataan pasien terakhirnya yang tidak punya aturan itu. Kemudian keluarlah perkataan yang berat penuh tekanan.

+ "Terserah apa kata saudari membela diri..., anda lanjutkan petualangan seks anda. Dengan resiko anda akan berkubang dengan penyakit kelamin yang sangat mengerikan itu, dan sangat boleh jadi pada suatu tingkat nanti anda akan mengidap penyakit AIDS yang sangat mengerikan itu..., atau anda hentikan dan bertaubat kepada Allah dari mengikuti ajaran bejat itu kalau anda menghendaki kesembuhan."

* "Ma...maaf Dok, saya telah membuat dokter tersinggung!"

Dokter Hanung hanya mengangguk menjawab perkataan pasien terakhirnya yang terbata-bata itu.

+ "Begini saudari..., tidak ada gunanya resep saya berikan kepada anda kalau toh tidak berhenti dari praktek kehidupan yang selama ini anda jalani. Dan semua dokter yang anda datangi pasti akan bersikap sama...., sebab itu terserah kepada saudari. Saya tidak bersedia memberikan resep kalau toh anda tidak mau berhenti."

* "Ba....bbaik Dok...., Insya Allah akan saya hentikan!"

Dokter Hanung segera menuliskan resep untuk pasien yang terakhirnya itu, kemudian menyodorkan kcpadanya.

* "Berapa Dok?"

+ "Tak usahlah...., saya sudah amat bersyukur kalau anda mau menghentikan cara hidup binatang itu dan kembali kepada cara hidup yang benar mmenurut tuntunan yang benar dari Rasulullah Shollallohu ‘alayhi wa ‘alaa aalihi wa sallam. Saya relakan itu untuk membeli resep."

Pasien terakhir dokter Hanung itu tersipu-sipu mendengar jawaban dokter Hanung.

* "Terimakasih Dok..., permisi!"

Perempuan itu kembali melangkah. satu-satu di pelataran rumah Dokter Hanung. Ia berjalan keluar teras dekat bougenvil biru yang seakan menyatu dengan warna jilbabnya. Sampai di gerbang dia menoleh sekali lagi ke teras, kemudian hilang di telan keramaian kota Bandung yang telah mulai temaram di sore itu. (Ibnu)

Majalah As-Sabiqunal Awwalun edisi 5, 1411 H (hal. 44-47)

Sumber: Buku "Mengapa Kita Menolak Syi'ah" hal. 254-257, Kumpulan Makalah Seminar Nasional Tentang Syi'ah, LPPI, Jakarta, Juli 1998.

*****

Link Terkait :

Baca Juga:

Simak Juga :

.

Subhanakallohumma wa bihamdihi,

Asyhadu an laa ilaaha illa anta, wa astaghfiruka wa atuubu ilaika

Wa akhiru da'wana, walhamdulillahirobbil 'alamin

1 komentar:

  1. Benarkah Seluruh Shahabat Nabi Muhammad shallallaahu 'alayhi wa sallam itu 'adil ?

    Simak pembahasannya di artikel berikut:

    http://ikhwanmuslim.com/akidah-dan-manhaj/benarkah-seluruh-sahabat-adil-1

    BalasHapus

Bagi antum yang ingin memberikan komentar, harap tidak menyertakan gambar/foto makhluk hidup. Bila tetap menyertakan, posting komentar tidak akan saya tampilkan. Syukron !