Mau'idhoh

Dari 'Abdulloh bin 'Abbas rodliyallohu 'anhumaa, bahwasanya Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa 'alaa aalihi wa sallam bersabda,

"Jagalah Alloh, Alloh akan menjagamu. Jagalah Alloh, engkau akan mendapatkan-Nya di hadapanmu.

Jika engkau meminta, memintalah kepada Alloh. Dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Alloh.

Ketahuilah, jika seluruh umat bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali dengan apa yang telah Alloh taqdirkan bagimu. Dan jika seluruh umat bersatu untuk memberikan mudhorot kepadamu, niscaya mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali dengan apa yang telah Alloh taqdirkan atasmu. Pena telah diangkat dan catatan telah kerin
g."

(HR. Tirmidzi, dia berkata "Hadits hasan shohih")

03 Maret 2022

FILE 423 : Hukum Mencukur Rambut Tengkuk

Bismillaahirrohmaanirrohiim             
Walhamdulillaah,      
Wash-sholaatu wassalamu 'ala Rosulillaah Muhammad Shollalloohu 'alaihi  wa 'alaa aalihi  wa shahbihi  wa sallam            
Wa ba'du
...

Mencukur Rambut Tengkuk

Disusun oleh:
Abul Jauzaa' hafidhahullaah
 
 
Dalam artikel sebelumnya (klik di sini), telah sedikit disinggung tentang bahasan mencukur (mengerik, menggundul – Sa'ad) rambut tengkuk. Maka di sini akan kami bahas bagaimana penjelasan ulama mengenai hal ini.
Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum mencukur rambut tengkuk.
Satu pendapat mengatakan haram. Disebutkan bahwa hal ini merupakan pendapat Ahmad, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Muflih rahimahumallaah :

وَيُكْرَهُ حلقُ القفا من غير حاجة، نح عليه، وقال أيضاًَ : هو من فعل المجوس : ((مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍِ فَهُوَ مِنْهُمْ))، وهذا يقتضي التحريم
“Dimakruhkan mencukur rambut tengkuk tanpa ada keperluan. Dan beliau (Ahmad) juga berkata : ‘Hal itu termasuk perbuatan orang-orang Majusi, (sedangkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :) Barangsiapa yang meniru/menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka’. Ini menunjukkan pengharaman” [Aadaabusy-Syar’iyyah, 3/333; tahqiq : Syu’aib Al-Arna’uth dan ‘Umar Al-Qayyaam].
Asy-Syaikh Muhammad bin Ibraahiim rahimahullah menguatkan pendapat ini [lihat : https://www.islamqa.com/ar/ref/10516].
Pendapat lain mengatakan makruh. Pendapat ini dipegang oleh Maalik, sebagian Syaafi’iyyah, dan satu riwayat dari Ahmad.
Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahullah berkata :

قد كان مالك رحمه الله يكره حلق القفا وما أدري إن كان كرهه مع حلق الرأس أو مفردا 
“Adalah Maalik rahimahullah memakruhkan mencukur rambut tengkuk, dan aku tidak tahu apakah kemakruhannya itu bersamaan dengan mencukur rambut atau tidak” [At-Tamhiid].
Al-Munaawiy rahimahullah berkata :

وحده, لأنه نوع من القزع وهو مكروه تنزيهاً
Dengan menyendirikannya, karena ia termasuk bagian dari qaza’ yang hukumnya makruuh tanziih” [Faidlul-Qadiir, no. 9459].
Ath-Thabaraaniy rahimahullah berkata saat mengomentari atsar ‘Umar radliyallaahu ‘anhu tentang pelarangan mencukur bulu tengkuk :

معناه عندي والله أعلم أنه عليه السلام استقبح أن يفرد حلق القفا دون حلق الرأس
“Maknanya menurutku – wallaahu a’lam – bahwasanya beliau (‘Umar) ‘alaihis-salaam memandang buruk menyendirikan mencukur rambut tengkuk tanpa mencukur rambut kepala” [Al-Mu’jamush-Shaghiir, 1/167].
Penulis Al-Inshaaf berkata :

فائدة: يكره حلق القفا مطلقا على الصحيح من المذهب: زاد فيه جماعة منهم المصنف والشارح لمن لم يحلق رأسه ولم يحتج إليه لحجامة أو غيرها نص عليه وقال أيضا هو من فعل المجوس ومن تشبه بقوم فهو منهم
“Faedah : Dimakruhkan mencukur rambut tengkuk secara mutlak menurut pendapat yang benar dalam madzhab (Hanaabilah). Namun sekelompok ulama Hanaabilah diantaranya penulis dan pensyarah menambahkan (mentaqyid) bagi orang yang tidak mencukur kepalanya/botak (sehingga masuk dalam larangan qazaa’ – Abul-Jauzaa’), tidak bermaksud dengannya untuk berbekam, dan yang lainnya. Hal ini dikatakan oleh Ahmad. Dan beliau (Ahmad) juga berkata : ‘Ia termasuk perbuatan Majusiy. Dan barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”  [Al-Inshaaf, 1/110].

Ilustrasi, sumber: aliexpress.com


Pembahasan :
Jika mencukur rambut rambut tengkuk ini tidak diikuti dengan mencukur rambut kepala, maka ini masuk dalam larangan qaza’.

أن النبي صلى الله عليه وسلم رأى صبيا قد حلق بعض شعره وترك بعضه فنهى عن ذلك وقال احلقوا كله أو اتركوا كله
Bahwasannya Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam melihat seorang anak-anak yang dicukur sebagian rambutnya dan dibiarkan sebagian yang lainnya. Maka beliau melarangnya dengan bersabda : “Cukurlah seluruhnya atau biarkan seluruhnya” [Diriwayatkan oleh Ahmad 2/88; shahih – lihat Silsilah Ash-Shahiihah no. 1123].
Asy-Syaikh Ibnu Jibriin rahimahullaah pernah ditanya : “Apa hukum mencukur rambut tengkuk bagi laki-laki ?”. Maka beliau menjawab :

لا يجوز ذلك فإنه من القزع، وقد قال النبي صلى الله عليه وسلم: "احلقوه كله أو اتركوه كله" ونهى عن القزع، ويعم ذلك الرجال والصبيان.
“Tidak boleh, karena ia termasuk qaza’. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda : ‘Cukurlah semuanya atau biarkanlah semuanya’. Dan beliau melarang al-qaza’, dan itu umum bagi laki-laki (dewasa) ataupun anak-anak” [lihat fatwa beliau : https://ibn-jebreen.com/ftawa.php?view=vmasal&subid=3162&parent=786].
An-Nawawiy rahimahullah menyebutkan ijma’ bahwa larangan di sini (yaitu : al-qaza’)  dibawa kepada makna makruh tanziih [Nailul-Authaar, 1/190].
Yaitu, makruh yang tidak sampai pada derajat haram.
Namun jika al-qaza’ ini menyerupai orang-orang kafir, maka kemakruhan ini menjadi haram. Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata :

والقزع كله مكروه، لأن النبي صلى الله عليه وسلم رأي صبيّاً حلق بعض رأسه فأمر النبي صلى الله عليه وسلم، أن يحلق كله أو يترك كله، لكن إذا كان قزعاً مشبهاً للكفار فإنه يكون محرماً، لأن التشبه بالكفار محرم، قال النبي صلى الله عليه وسلم من تشبه بقوم فهو منهم
Al-qaza’ itu secara keseluruhan adalah makruh, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seorang anak yang dicukur sebagian rambutnya. Lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar dicukur semuanya atau dibiarkan semuanya. Akan tetapi bila al-qaza’ itu menyerupai orang-orang kafir, ia menjadi haram, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Barangsiapa yang menyerupai satu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” [lihat : https://www.islamway.com/?iw_s=Fatawa&iw_a=view&fatwa_id=11416].
Dan salaf telah mengatakan bahwa mencukur rambut tengkuk termasuk perbuatan menyerupai orang-orang Majusiy/’Ajam.

عن المعتمر بن سليمان التيمي قال: "كان أبي إذا جز شعره لم يحلق قفاه"، قيل له لم؟ قال: "كان يكره أن يتشبه بالعجم"
Dari Al-Mu’tamir bin Sulaimaan, ia berkata : “Ayahku apabila memotong rambutnya, ia tidak mencukur (habis) rambut tengkuknya”. Dikatakan kepadanya : “Mengapa ?”. Ia menjawab : “Karena ia membenci menyerupai orang-orang ‘Ajam” [Iqtidlaa’ Ash-Shiraathil-Mustaqiim, 1/207]

عن الهيثم بن حميد، قال: "حف القفا من شكل المجوس"
“Mencukur habis rambut tengkuk termasuk cara orang-orang Majusiy” [idem].

وقال المروزي : سألت أبا عبد الله - يعني أحمد بن حنبل - عن حلق القفا ؟ فقال : هو من فعل المجوس، ومن تشبه بقوم فهو منهم
”Berkata Al-Marwaziy : ’Aku bertanya kepada Abu ’Abdillah – yaitu Ahmad bin Hanbal – tentang mencukur bulu tengkuk ?’. Maka beliau menjawab : ’Itu merupakan perbuatan orang-orang Majusi. Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongannya’ [ Jilbab Mar’atil-Muslimah oleh Al-Albani hal. 187].
Jika seseorang mencukur kepalanya (botak) sekaligus rambut tengkuknya, maka ini tidak mengapa (karena tidak termasuk qaza’).
Dan jika ia mencukurnya karena keperluan, misalnya berbekam, maka ini tidak mengapa. Berbekam telah ma’tsur dalam riwayat, dan jika dilakukan di bagian tengkuk, maka ia dilakukan dengan mencukur rambut tengkuk. Kebolehan ini sebatas kebutuhan.
Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

ويكره حلق القفا لمن لم يحلق رأسه ولم يحتج إليه؛ لأنه من فعل المجوس، ومن تشبه بقوم فهو منهم، فأما عند الحجامة ونحوها فلا بأس
“Dan makruh mencukur rambut tengkuk bagi orang yang tidak mencukur rambut kepalanya dan tidak punya kebutuhan padanya. Karena ia termasuk perbuatan orang-orang Majusiy. Adapun melakukannya pada saat berbekam atau semisalnya, maka tidak mengapa” [Syarhul-‘Umdah, 1/231].
Tidak ada riwayat shahih yang dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan juga dari shahabat beliau radliyallaahu ‘anhum tentang bahasan ini. Namun merupakan pendapat sebagian ulama saja sebagaimana telah disebutkan.
Adapun riwayat :

عن عمر بن الخطاب رضى الله تعالى عنهما قال نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن حلق القفا الا للحجامة
Dari ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhumaa, ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang mencukur rambut tengkuk kecuali  jika untuk berbekam”.
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Ash-Shaghiir 1/166 no. 261 dan Al-Ausath 3/220 no. 2969, Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil fidl-Dlu’afaa 4/418, dan Abu Nu’aim dalam Akhbaar Ashbahaan 1/339; semuanya dari Sulaimaan bin ‘Abdirrahmaan : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim : Telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Basyiir, dari Qataadah, dari Al-Hasan, dari Anas bin Maalik, dari ‘Umar bin Al-Khaththaab, beliau berkata : “…(al-hadits)…”.
Al-Haitsamiy rahimahullah berkata :

رواه الطبراني في الصغير والأوسط، وفيه سعيد بن بشير، وثقه شعبة وغيره، وضعفه ابن معين وغيره، وبقية رجاله رجال الصحيح
Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Ash-Shaghiir dan Al-Ausath, padanya terdapat Sa’iid bin Basyiir. Ia telah ditsiqahkan oleh Syu’bah dan yang lainnya, namun didla’ifkan oleh Ibnu Ma’iin dan yang lainnya. Adapun perawi yang lainnya adalah perawi Ash-Shahiih” [Majma’uz-Zawaaid 5/169].
Sa’iid bin Basyiir adalah perawi yang dla’iif dalam hapalannya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 374 no. 2289].
Ibnu ‘Adiy mengomentari hadits ini berkata :

وهذا لا يرويه عن قتادة غير سعيد بن بشير وهو متن منكر عن سعيد رواه الوليد بن مسلم
“Hadits ini tidak diriwayatkan dari Qataadah kecuali Sa’iid bin Basyiir. Ia adalah matan munkar dari Sa’iid yang diriwayatkan oleh Al-Waliid bin Muslim” [Al-Kaamil, 4/418].
‘Abdurrazzaaq meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qataadah :

أن عمر بن الخطاب رأى رجلا قد حلق قفاه ولبس حريرا فقال: من تشبه بقوم فهو منهم
“Bahwasannya ‘Umar melihat seorang laki-laki yang mencukur rambut tengkuknya dan memakai sutera, maka ia berkata : ‘Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” [Al-Mushannaf, 11/453-454 no. 20986].
Sanad riwayat ini juga lemah. Qataadah tidak pernah bertemu dengan ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu.
Asy-Syaikh Al-Albaaniy rahimahullah membawakan beberapa jalan hadits tersebut dalam Adl-Dla’iifah no. 3496 & 4727. Silakan merujuk ke sana, karena terdapat pembahasan yang sangat bermanfaat.
Itu saja yang dapat dituliskan, semoga ada manfaatnya.

Wallaahu a’lam bish-shawwaab. 

******

Sumberabul-jauzaa.blogspot.com 
 
Subhanakallohumma wa bihamdihi,     
Asyhadu an laa ilaaha illa anta, wa astaghfiruka wa atuubu ilaika      
Wa akhiru da'wana, walhamdulillahirobbil 'alamiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagi antum yang ingin memberikan komentar, harap tidak menyertakan gambar/foto makhluk hidup. Bila tetap menyertakan, posting komentar tidak akan saya tampilkan. Syukron !