Bismillahirrohmanirrohim
Walhamdulillah,
wash-sholaatu wassalamu 'ala Rosulillah Muhammad Shollalloohu 'alaihi wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam
Wa ba'du
….
Mereka Bertaubat dari Syi'ah
KISAH I
KISAH TAUBATNYA TIGA WANITA SYI'AH
Bismillahirrahmaanirrahiem, semoga shalawat dan salam tercurah atas Nabi dan Rasul termulia, junjungan kami Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga dan para sahabatnya.
Ya Allah, kepada-Mu kami berlindung, kepada-Mu kami memohon pertolongan dan kepada-Mu kami bertawakkal. Engkaulah Yang Memulai dan Mengulangi, Ya Allah kami berlindung dari kejahatan perbuatan kami dan minta tolong kepada-Mu untuk selalu menaati-Mu, dan kepada-Mu lah kami bertawakkal atas setiap urusan kami.
Semenjak lahir, yang kutahu dari akidahku hanyalah ghuluw (berlebihan) dalam mencintai Ahlul bait. Kami dahulu memohon pertolongan kepada mereka, bersumpah atas nama mereka dan kembali kepada mereka tiap menghadapi bencana. Aku dan kedua saudariku telah benar-benar meresapi akidah ini sejak kanak-kanak.
Kami memang berasal dari keluarga Syi’ah asli. Kami tidak mengenal tentang mazhab ahlussunnah wal jama’ah kecuali bahwa mereka adalah musuh-musuh ahlulbait Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Mereka lah yang merampas kekhalifahan dari tangan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu’anhu, dan merekalah yang membunuh Husain.
Akidah ini semakin tertanam kuat dalam diri kami lewat hari-hari “Tahrim”, yaitu hari berkabung atas ahlul bait, demikian pula apa yang diucapkan oleh syaikh kami dalam perayaan Husainiyyah dan kaset-kaset ratapan yang memenuhi laciku.
Aku tak mengetahui tentang akidah mereka (ahlussunnah) sedikitpun. Semua yang kuketahui tentang mereka hanyalah bahwa mereka orang-orang munafik yang ingin menyudutkan ahlul bait yang mulia.
Faktor-faktor di atas sudah cukup untuk menyebabkan timbulnya kebencian yang mendalam terhadap penganut mazhab itu, mazhab ahlussunnah wal jama’ah.
Benar… Aku membenci mereka sebesar kecintaanku kepada para Imam. Aku membenci mereka sesuai dengan anggapan Syi’ah sebagai pihak yang terzhalimi.
Keterkejutan Pertama
Ketika itu Aku sedang duduk di sekolah dasar. Di sekolah aku mendengar penjelasan Bu Guru tentang mata pelajaran tauhid. Beliau berbicara tentang syirik, dan mengatakan bahwa menyeru selain Allah termasuk bentuk menyekutukan Allah. Contohnya seperti ketika seseorang berkata dalam doanya: “Hai Fulan, selamatkan Aku dari bencana… tolonglah Aku” lanjut Bu Guru.
Maka kukatakan kepadanya: Bu, kami mengatakan “Ya Ali”, apakah itu juga termasuk syirik?
Sejenak kulihat beliau terdiam… seluruh murid di sekolahku, dan sebagian besar guru-gurunya memang menganut mazhab Syi’ah… kemudian Bu Guru berkata dengan nada yakin: “Iya, itu syirik” kemudian langsung melontarkan sebuah pertanyaan kepadaku:
“Bukankah doa adalah ibadah?”
“Tidak tahu”, jawabku.
“Coba perhatikan, apa yang Allah katakan tentang doa berikut”, lanjutnya seraya membaca firman Allah:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (Ghaafir: 60).
“Bukankah dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa berdoa adalah ibadah, lalu mengancam orang yang enggan dan takabur terhadap ibadah tersebut dengan Neraka?” tanyanya.
Setelah mendengar pertanyaan tersebut, aku merasakan suatu kejanggalan… aku merasa kecewa… segudang perasaan menggelayuti benakku tanpa bisa kuungkapkan. Saat itu aku berangan-angan andaikan aku tak pernah menanyakan hal itu kepadanya. Lalu kutatap dia untuk kedua kalinya… ia tetap tegar laksana gunung.
Waktu pulang kutunggu dengan penuh kesabaran, Aku berharap barangkali ayah dapat memberi solusi atas permasalahanku ini… maka sepulangku dari sekolah, kutanya ayahku tentang apa yang dikatakan oleh Bu Guru tadi.
Ayah serta merta mengatakan bahwa Bu Guru itu termasuk yang membenci Imam Ali. Ia mengatakan bahwa kami tidaklah menyembah Amirul Mukminin, kami tidak mengatakan bahwa dia adalah Allah sehingga Gurumu bisa menuduh kami telah berbuat syirik… jelas ayah.
Sebenarnya aku tidak puas dengan jawaban ayahku, sebab Bu Guru berdalil dengan firman Allah. Ayah lalu berusaha menjelaskan kepadaku kesalahan mazhab Sunni hingga kebencianku semakin bertambah, dan aku semakin yakin akan batilnya mazhab mereka.
Aku pun tetap memegangi mazhabku, mazhab Syi’ah; hingga adik perempuanku melanjutkan karirnya sebagai pegawai di Departemen Kesehatan.
Sekarang, biarlah adikku yang melanjutkan ceritanya…
Setelah masuk ke dunia kerja, aku berkenalan dengan seorang akhwat ahlussunnah wal jama’ah. Ia seorang akhwat yang multazimah (taat) dan berakhlak mulia. Ia disukai oleh semua golongan, baik Sunni maupun Syi’ah. Aku pun demikian mencintainya, dan berangan-angan andai saja dia bermazhab Syi’ah.
Saking cintanya, aku sampai berusaha agar jam kerjaku bertepatan dengan jam kerjanya, dan aku sering kali bicara lewat telepon dengannya usai jam kerja.
Ibu dan saudara-saudaraku tahu betapa erat kaitanku dengannya, sebab itu aku tak pernah berterus terang kepada mereka tentang akidah sahabatku ini, namun kukatakan kepada mereka bahwa dia seorang Syi’ah, tak lain agar mereka tidak mengganggu hubunganku dengannya.
Permulaan Hidayah
Hari ini, aku dan sahabatku berada pada shift yang sama. Kutanya dia: “Mengapa di sana ada Sunni dan Syi’ah, dan mengapa terjadi perpecahan ini?” Ia pun menjawab dengan lembut:
“Ukhti, sebelumnya maafkan aku atas apa yang akan kuucapkan… sebenarnya kalianlah yang memisahkan diri dari agama, kalian yang memisahkan diri dari Al Qur’an dan kalian yang memisahkan diri dari tauhid!!”
Kata-katanya terdengar laksana halilintar yang menembus hati dan pikiranku. Aku memang orang yang paling sedikit mempelajari mazhab di antara saudari-saudariku. Ia kemudian berkata:
“Tahukah kamu bahwa ulama-ulama kalian meyakini bahwa Al Qur’an telah dirubah-rubah, meyakini bahwa segala sesuatu ada di tangan Imam, mereka menyekutukan Allah, dan seterusnya…?” sembari menyebut sejumlah masalah yang kuharap agar ia diam karena aku tidak mempercayai semua itu.
Menjelang berakhirnya jam kerja, sahabatku mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tasnya seraya mengatakan bahwa itu adalah tulisan saudaranya, berkenaan dengan haramnya berdoa kepada selain Allah. Kuambil lembaran-lembaran tersebut, dan dalam perjalanan pulang aku meraba-rabanya sambil merenungkan ucapan sahabatku tadi.
Aku masuk ke rumah dan kukunci pintu kamarku. Lalu mulailah kubaca tulisan tersebut. Memang, hal ini menarik perhatianku dan membuatku sering merenungkannya.
Pada hari berikutnya, sahabatku memberiku sebuah buku berjudul “Lillaah, tsumma littaariekh” (Karena Allah, kemudian karena sejarah). Sumpah demi Allah, berulang kali aku tersentak membaca apa yang tertulis di dalamnya. Inikah agama kita orang Syi’ah? Inikah keyakinan kita?!!
Sahabatku pun semakin akrab kepadaku. Ia menjelaskan hakikat banyak hal kepadaku. Ia mengatakan bahwa ahlussunnah mencintai Amirul Mukminin dan keluarganya.
Benar… aku pun beralih menganut mazhab ahlussunnah tanpa diketahui oleh seorang pun dari keluargaku. Sahabatku ini selalu menghubungiku lewat telepon. Bahkan saking seringnya, ia sempat berkenalan dengan kakak perempuanku.
Sekarang, biarlah kakakku yang melanjutkan ceritanya…
Aku mulai berkenalan dengan akhwat yang baik ini. Sungguh demi Allah, aku jadi cinta kepadanya karena demikian sering mendengar cerita adikku tentangnya. Maka begitu mendengar langsung kata-katanya, aku semakin cinta kepadanya…
Permulaan Hidayah
Hari itu, aku sedang membersihkan rumah dan adikku sedang bekerja di kantor. Aku menemukan sebuah buku bergambar yang berjudul: “Lillaah, tsumma littaariekh”.
Aku pun membukanya lalu membacanya… sungguh demi Allah, belum genap sepuluh halaman, aku merasa lemas dan tak sanggup merampungkan tugasku membersihkan rumah. Coba bayangkan, dalam sekejap, akidah yang ditanamkan kepadaku selama lebih dari 20 tahun hancur lebur seketika.
Aku menunggu-nunggu kembalinya adikku dari kantornya. Lalu kutanya dia: “Buku apa ini?”
“Itu pemberian salah seorang suster di rumah sakit”, jawabnya.
“Kau sudah membacanya?” tanyaku.
“Iya, aku sudah membacanya dan aku yakin bahwa mazhab kita keliru”, jawabnya.“Bagaimana denganmu?” tanyanya.
“Baru beberapa halaman” jawabku.
“Bagaimana pendapatmu tentangnya?” tukasnya.
“Kurasa ini semua dusta, sebab kalau benar berarti kita betul-betul sesat dong”, sahutku.
“Mengapa tidak kita tanyakan saja isinya kepada Syaikh?” pintaku.
“Wah, ide bagus” katanya.
Buku itu lantas kukirimkan kepada Syaikh melalui adik laki-lakiku. Kuminta agar ia menanyakan kepada Syaikh apakah yang tertulis di dalamnya benar, ataukah sekedar kebohongan dan omong kosong?
Adikku mendatangi Syaikh tersebut dan memberinya buku itu. Maka Syaikh bertanya kepadanya: “Dari mana kau dapat buku ini?”
“Itu pemberian salah seorang suster kepada kakakku” jawabnya.
“Biarlah kubaca dulu” kata Syaikh, sembari aku berharap dalam hati agar kelak ia mengatakan bahwa semuanya merupakan kebohongan atas kaum Syi’ah. Akan tetapi, jauh panggang dari api! Kebatilan pastilah akan sirna…
Aku terus menunggu jawaban dari Syaikh selama sepuluh hari. Harapanku tetap sama, barang kali aku mendapatkan sesuatu darinya yang melegakan hati.
Namun selama sepuluh hari tadi, aku telah mengalami banyak perubahan. Kini sahabat adikku sering berbicara panjang lebar denganku lewat telepon, bahkan ia seakan lupa kalau mulanya ia ingin bicara dengan adikku. Kami bicara panjang lebar tentang berbagai masalah.
Pernah suatu ketika ia menanyaiku: “Apa kau puas dengan apa yang kita amalkan sebagai orang Syi’ah selama ini?”. Aku mengira bahwa dia adalah Syi’ah, dan dia tahu akan hal itu…
“Kurasa apa kita berada di atas jalan yang benar”, jawabku.
“Lalu apa pendapatmu terhadap buku milik adikmu?” tukasnya.
Akupun terdiam sejenak… lalu kataku:
“Buku itu telah kuberikan ke salah seorang Syaikh agar ia menjelaskan hakikat buku itu sebenarnya”.
“Kurasa ia takkan memberimu jawaban yang bermanfaat, aku telah membacanya sebelummu berulang kali dan kuselidiki kebenaran isinya… ternyata apa yang dikandungnya memang sebuah kebenaran yang pahit”, jelasnya.
“Aku pun menjadi yakin bahwa apa yang kita yakini selama ini adalah batil” lanjutnya.
Kami terus berbincang lewat telepon dan sebagian besar perbincangan itu mengenai masalah tauhid, ibadah kepada Allah dan kepercayaan kaum Syi’ah yang keliru. Tiap hari bersamaan dengan kepulangan adikku dari kantor, ia menitipkan beberapa lembar brosur tentang akidah Syi’ah, dan selama itu aku berada dalam kebingungan…
Aku teringat kembali akan perkataan Bu Guru yang selama ini terlupakan. Kuutus adik lelakiku untuk menemui Syaikh dan meminta kembali kitab tersebut beserta bantahannya. Akan tetapi sumpah demi Allah, lagi-lagi Syaikh ini mengelak untuk bertemu dengan adikku. Padahal sebelumnya ia selalu mencari adikku, dan kini adikku yang justru menelponnya. Namun keluarga Syaikh mengatakan bahwa dia tidak ada, dan ketika adikku bertemu dengannya dalam acara Husainiyyah[1] dan menanyakan kitab tersebut; Syaikh hanya mengatakan: “Nanti”, demikian seterusnya selama dua bulan.
Selama itu, hubunganku dengan sahabat adikku lewat telepon semakin sering, dan di sela-selanya ia menjelaskan kepadaku bahwa dirinya seorang Sunni, alias ahlussunnah wal jama’ah. Dia berkata kepadaku:
“Jujur saja, apa yang membuat kalian membenci Ahlussunnah wal Jama’ah?”
Aku sempat ragu sejenak, namun kujawab: “Karena kebencian mereka terhadap Ahlulbait”.
“Hai Ukhti, Ahlussunnah justeru mencintai mereka”, jawabnya.
Kemudian ia menerangkan panjang lebar tentang kecintaan Ahlussunnah terhadap seluruh keluarga Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, beda dengan Syi’ah Rafidhah yang justeru membenci sebagian ahlul bait seperti isteri-isteri Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam.
Benar, kini aku tahu tentang akidah Ahlussunnah wa Jama’ah dan aku mulai mencintai akidah yang sesuai dengan fitrah dan jauh dari sikap ghuluw (ekstrim)… jauh dari syirik… dan jauh dari kedustaan.
Kebenaran yang sesungguhnya mulai tampak bagiku, dan aku pun bingung apakah aku harus meninggalkan agama nenek moyang dan keluargaku? Ataukah meninggalkan agama yang murni, ridha Allah dan Jannah-Nya??
Aku seorang Sunni, alias Ahlussunnah wal Jama’ah.
Akhwat tersebut mengucapkan takbir lewat telepon, maka seketika itu meleleh lah air mataku… air mata yang membersihkan sanubari dari peninggalan akidah Syi’ah yang sarat dengan syirik, bid’ah dan khurafat…
Demikianlah… dan tak lama setelah kami mendapat hidayah, adik kami yang paling kecil serta salah seorang sahabatku juga mendapat hidayah atas karunia Allah Subhanahu wa Ta’aala.
(Saudari-saudari kalian yang telah bertaubat)
[basweidan.wordpress.com dari www.fnoor.com/fn1024.htm]
==============
[1] Ritual kaum Syi’ah dalam rangka memperingati syahidnya Imam Husain bin Ali Radhiyallohu’anhu.
KISAH II
KISAH WANITA SYIAH YANG BERTAUBAT
Saya seorang wanita berkebangsaan Irak, umurku 29 tahun berprofesi sebagai wartawan di salah satu Media Informasi. Ayahku berasal dari Iraq sedangkan ibuku berasal dari Iran. Dari kecil saya telah tumbuh dalam rumah dan lingkungan beraqidah Syiah murni dan terbiasa di atas aqidah Syiah Imamiyah
Walaupun kedua orangtua saya memiliki wawasan keislaman yang luas akan tetapi keduanya meyakini kemurnian ajaran Syiah, mereka yakin bahwa AlQuran telah dirubah oleh Kaum Sunny, dan keluarga besar saya sangat membenci para sahabat Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam
Setelah dewasa, sayapun menikah dengan seorang pemuda Syiah berasal dari keluarga Syiah juga dimana ketekunan menjalankan ajaran Syiahnya sama seperti keluargaku. Dari pernikahan ini, saya melahirkan tiga orang anak.k
Suatu hari, saya berjumpa dengan salah seorang ibu rumah tangga yang menikah dengan seorang pemuda Arab Saudi, namanya Ummu Yusuf. Singkat cerita, kamipun saling berkenalan dan berdialog tentang masalah “istighatsah kepada selain Allah dan masalah ziarah kubur”r
Dalam dialog tersebut, saya mendapatkan darinya sebuah ucapan indah yang sempat merasuki lubuk hatiku. Ia mengatakan kepadaku ‘janganlah engkau berdoa kepada Ali, tapi berdoalah kepada Tuhan Ali, Allah. Sebab Dia lebih dekat kepadamu dari urat lehermu.'m
Saat itu, saya teringat akan sebuah hadis yang terdapat dalam sebuah kitab. Sebuah hadis yang disandarkan kepada Qunbur, Maula Ali radhiyallahu’anhu –secara dusta-, hadisnya berbunyi “Suatu saat, Qunbur mendatangi tempat Ali dan berkata : ‘Wahai Pelayan, dimanakah Amirul mukminin Ali berada ?’, Pelayan wanita tersebutpun menjawab : ‘Diamlah wahai Qunbur,sesungguhnya Ali tengah berada di atas menara yang sangat tinggi (diatas langit),sedang membagi-bagikan rezeki, dan menciptakan janin yang ada dalam setiap rahim ..."m
Hadis ini juga mengingatkanku akan sebuah peristiwa ketika saya pergi keseorang ulama terpandang Syiah untuk menanyakan hadis ini, iapun hanya berkata : “Kamu hanya wajib untuk meyakini kebenaran isi hadis ini, tanpa harus bertanya lagi, karena penafsiran hadis ini khusus diperuntukkan bagi orang yang telah mumpuni keilmuannya. Mungkin saya akan menjwab pertanyaanmu ini, namun tunggulah sampai umurmu mencapai empat puluh tahun agar engkau paham maknanya. Kembalikanlah kitab itu kedalam tempatnya dan jangan lagi bertanya.”a
Kejadian ini masih begitu jelas teringat dalam benakku. Lalu saya membandingkannya dengan ucapan Ummu Yusuf yang barusan berdialog denganku. Namun jiwaku tetap memberontak dan berkata : “Kalau begitu ucapan Ummu Yusuf tadi adalah pemikiran Wahhaby yang sangat menakutkan ...”n
Anehnya saya mulai bersemangat untuk mencari kebenaran tentang Ali demi menyelamatkan diriku dari was-was yang mulai merasuki hatiku. Namun, kadang hatiku terasa aneh, sebab jiwaku sekan merasa bahwa ucapan Ummu Yusuf ada benarnya.a
Namun hatiku kembali berontak karena jika meyakini kebenaran ucapannya, maka berarti saya telah membenarkan aqidah Wahhabiyah (Ahli Sunnah) yang begitu sangat dilaknat dan dibenci oleh Kaum Syiah.h
Beberapa waktu kemudian, saya berjumpa lagi dengan Ummu Yusuf. Namun kali ini ia menghadiahkanku beberapa buku, tulisan Syaikh Ibnu baz, Syaikh Ibnul ’Utsaimin dan beberapa ceramah Syaikh Abdullah bin Jibrin. Semuanya membahas seputar masalah aqidah.h
Ketika mengambilnya, sayapun mulai membacanya. Setiap pembahasan dalam kitab tersebut saya teliti dan pertimbangkan baik-baik. Namun ternyata pembahasan tersebut diterima oleh logikaku dengan sangat mudah. Setiap membuka halaman baru sayapun merasa semakin dekat dengan aqidah salaf, dan menjauh dari Sekte Syiah Ja’fary Imamiyah.h
Sayapun mulai merasa tenang. Namun masih ada beberapa masalah yang masih mengganjal dalam benakku, seperti perselisihan para sahabat, hak Ali sebagai Khalifah pertama, kezaliman para sahabat terhadap Ahli bait. Sebab semua ini adalah keyakinan Syiah yang telah mendarah daging dalam diriku, dan saya tidak tahu bagaimana harus mengusir keyakinan-keyakinan ini dari dalam diriku. Sebab itu, dirikupun terasa berada dalam pergolakan aqidah dimana di sebagian besar waktuku selalu memikirkannya.a
Masuknya diriku kedalam pengaruh aqidahAhli Sunnah semakin menjauh. Saya lalu berusaha untuk kembali ke madzhab asliku ‘syiah’, namun hatiku tidak lagi menginginkannya, sebab saya telah yakin seyakin-yakinnya bahwa madzhab syiah hanyalah sebuah madzhab yang sesat. Lalu saya memberitahu suamiku akan hal tersebut, tetapi ia seakan tidak serius mempermasalahkannya dan anehnya, ia tetap mengizinkanku untuk mengganti cara shalatku sesuai shalatnya Ahli Sunnah.h
Sayapun mulai bersedekap, dan tidak lagi meluruskan tanganku ketika berdiri dalam shalat sebagaimana madzhab syiah. Saya juga tidak lagi mengusap kedua kakiku ketika wudhu, karena madzhab Ahli Sunnah adalah membasuhnya.a
Dalam kondisi yang seperti ini, suamiku selalu memperhatikanku, bahkan kadang mentertawakanku. Sehingga ketika ia benar-benar tahu bahwa aku serius, iapun hanya bisa membiarkanku. Akan tetapi ia sama sekali belum paham tentang pemikiran dan aqidah sunny, sebab kondisi Ahli Sunnah di Irak sangat berbeda dengan kondisi seorang sunny salafy yang hakiki.i
Beberapa waktu kemudian, saya berkenalan dengan seorang syaikh, dan saya selalu bertanya kepadanya tentang urusan agama melalui Messenger. Beliau pun dengan sabar menjelaskan semua pertanyaanku, dan bersungguh-sungguh mengirimkanku beberapa maklumat. Dan syaikh inilah yang juga memiliki pengaruh besar dalam perjalanan hidupku -semoga Allah merahmatinya-, ia telah tewas ditangan tentara Amerika -semoga Allah melaknat mereka-.a
Akhir dari nasehat yang beliau sampaikan kepadaku adalah agar saya mendakwahi suamiku kepada kebenaran ahli Sunnah, dan jika ia tidak mau, maka ia mewasiatkan agar saya wajib memisahkan diri darinya, karena ia yang bermadzhab syiah imamiyah adalah seorang musyrik. Wasiat ini, beliau sampaikan pada waktu malam, dan pada keesokan harinya ia telah tewas sebagai syahid, insya Allah.h
Singkat waktu, sayapun menerima wasiatnya, mendakwahi suamiku untuk masuk kedalam Ahli Sunnah namun ia menolak, sehingga saya pun memisahkan diri darinya. Tetapi problem terbesar adalah kami memiliki tiga orang anak. Jadi anak-anak kami sepekan bersama dengannya, dan sepekan bersama denganku, dan ia sama sekali tidak mengizinkanku untuk tinggal bersama anak-anakku setiap hari sebab ia khawatir mereka terpengaruh dengan pemikiranku yang sesat –menurut anggapannya dan anggapan madzhab Syiah-.h
Mengetahui semua ini, keluargakupun berusaha untuk mengembalikanku ke madzhab Syiah dengan berbagai cara, namun tidak berhasil, sehingga ayahkupun sangat marah dan mengusirku dari rumah dan dari kehidupan mereka. Hanya ibuku yang sesekali menziarahiku secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan ayahku.u
Dalam keadaan terboikot seperti ini, saya pergi menemui Komite Ulama Muslimin untuk memohon kepada mereka agar melindungi diriku. Saya khawatir Syiah dan para pembunuh bayaran mereka akan membunuhku. Saya tidak bisa tidur kecuali sedikit.t
Problem lainnya adalah saya bekerja di sebuah yayasan liberal. Saat itu saya ingin pindah kerja agar terbebas dari pengaruh Sekte Liberal, sebab mereka berpaham atheis, menghina hijabku. Mereka berkata : ‘Allah tidak ada,tidak ada yang namanya Nabi Muhammad’, Mereka berusaha menyakitiku dengan berbagai cara.a
Sayapun kemudian diterima oleh para anggota Haiah (Komite) tersebut. Saya menjelaskan kepada mereka bahwa saya adalah bagian dari kalian, Ahli Sunnah. Maka janganlah kalian membiarkanku terjerumus kedalam Sekte Liberal maupun kembali ke Sekte Syiah. Dan bahwa sekarang saya adalah seorang sunny dan sama sekali tidak memilki hak dan kedudukan apa-apa diantara mereka. Merekapun berjanji akan melindungi.i
Setelah itu, mulailah kehidupanku terboikot dari orang-orang di sekekelilingku, namun syukurlah saya masih bisa bergaul lewat alam lain yaitu internet. Saat itu, bagaimanapun juga alam internet lebih baik bagiku daripada alam manusia.a
Namun, saya seorang yang berprofesi sebagai penulis surat kabar, tentu ada yang tahu tentangku. Sehingga kadang tidak jarang diperhadapkan pada percobaan pembunuhan dari sindikat pembunuh bayaran Syiah. Bahkan akhir-akhir ini, saya hampir saja terbunuh ketika berusaha melarikan diri dari balkon apartemenku, sebab saya terjatuh dari atas bangunan ketika melarikan diri dari para pembunuh bayaran tersebut.t
Tidak sampai di situ. Ketika melihatku terjatuh, mereka lalu menyebarkan desas-desus bahwa sebab musabab terjatuhnya diriku adalah karena saya mengidap penyakit stress yang mendorongku untuk melakukan bunuh diri. Namun alhamdulillah, sekarang saya sementara terus berobat dan hampir sembuh.h
Kejadian tersebut ternyata membawa hikmah tersendiri, dimana saya kemudian bisa mempengaruhi ibuku agar tetap bersamaku, dan sekarang ia sangat mendengar kata-kataku. Saya sangat mengharap Allah memberikan beliau hidayah. Demikian pula, ayah dari anak-anakku yang sekarang mulai menetap denganku dan mendengar semua kata-kataku. Saya juga berharap ia bisa mendapatkan hidayah dan taufiq, sebab kini ia berusaha untuk kembali berkumpul denganku dan secara umum telah paham akan sesatnya keyakinan Syiah Imamiyah.h
Saya memohon kepada Allah ta’ala agar bisa mendidik dan membina anak-anakku diatas aqidah yang benar, jauh dari keyakinan bid’ah dan syirik Syiah yang saya telah tumbuh dan terdidik diatasnya sehingga hampir-hampir saja saya menjadi orang yang binasa kalau tidak diselamatkan oleh Tuhanku yang memberiku rahmat hidayah, memperlihatkanku kebenaran serta memberiku taufiq untuk mengikutinya.a
sumber : darul-anshar.com
KISAH III
KISAH ISLAMNYA SEORANG PENGANUT SYI'AH
Putra sulung Abdushshamad Busyahri, Hamid Busyahri Abu Utsman
menuturkan kepada saya salah satu kisah terunik dan paling mengesankan
bagi saya. Dia berkata:
Lima puluh tahun yang lalu, ayah saya, H. Abdushshamad Busyahri
adalah seorang penganut Syiah yang sangat rajin mengunjungi
majlis-majlis syirik yang dengan penuh kepalsuan dan kepura-puraan yang
mereka beri nama al-Husainiyyah. Sebuah penisbatan kepada al-Husain bin
Ali radhiyallahu ‘anhuma, padahal beliau sendiri tidak ada
sangkut pautnya sama sekali dengan majelis ini maupun orang-orang yang
menghadirinya sampai hari kiamat kelak. Ayah adalah seorang laki-laki
yang multazim (taat, konsisten) dan dermawan.
Orang-orang fakir saban
hari mendatangi kantornya. Meskipun tidak bisa baca-tulis, beliau
memiliki perhatian besar terhadap majelis-majelis zikir dan
kajian-kajian yang disampaikan oleh para ulama Syiah yang datang dari
Najef dan Qumm.
Sebagaimana penganut syiah lainnya, sejak kecil ayah telah melahap
dongeng dan kedustaan para sayid Rafidhah (setiap orang yang mengklaim
dirinya bernasab kepada keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disebut sayyid, dan mayoritas orang yang mereka klaim sebagai sayyid, tidak benar penasaban mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) bahwa para khalifah kaum muslimin adalah musuh ahlulbait, musuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan musuh Islam. Musuh terbesar Rasulullah Shallallahu alaihi Wa Salam dan keluarga beliau yang suci ialah Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar bin al-Khattab –mudah-mudhan Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai mereka dan menjadikan mereka ridha- demikian juga dengan kedua putri mereka yang suci, istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, serta ibunda kaum mukminin, meskipun orang-orang zindik tersebut tiada menyukai kenyataan ini.
Ayah menelan mentah-mentah kedustaan demi kedustaan nista ini hingga
membuatnya bereaksi mencaci kedua orang yang dikasihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
tersebut setiap kali mendengar nama mereka. Beliau pun tumbuh besar
seperti orang-orang Rafidhah lainnya membeo mengulang-ulang caci-makian
terhadap ash-shiddq dan al-Faruq serta sahabat mulia lainnya. Mereka
mengulang-ulang apa yang mereka dengar dari para tokoh spiritual mereka,
para sayid yang kafir lagi zindik, para mu’ammim (sebutan bagi para
ulama Syi’ah yang kebanyakan mereka mengenakan imamah hitam membalut
kepala mereka). Semoga Allah menimpakan kepada mereka hukuman yang
berhak mereka terima.
Ketika usia beliau mendekat empat puluh lima tahun, ayah memutuskan
untuk memperbaharui hidupnya dengan menunaikan ibadah haji ke Baitullah
al-Haram. Ayah bermaksud bergabung dengan biro perjalanan haji Rafidhah,
yang saat itu masih satu-satunya, karena populasi mereka saat itu tidak
sampai 2% dari jumlah total penduduk.
Ayah saya Abdushshamad Busyahri tinggal di distrik al-Qaar, di Negara
Kuwait. Distrik al-Qaar merupakan perkampungan orang-orang Rafidhah
hingga saat ini. Beliau bekerja di Kementerian Kesehatan kala itu.
kebetulan, Kementerian Kesehatan memutuskan merekomendasikan beliau
menjadi salah seorang tenaga tim kesehatan jemaah haji Kuwait di tanah
Haram. Ayah pun bingung apakah bergabung dengan tim kesehatan Kuwait
atau dengan biro haji Rafidhah.
Ayah bertukar pikiran dengan pimpinan Tim Kesehatan, Ibrahim
al-Mudhaf. Beliau menyarankan untuk bergabung dengan Tim Kesehatan,
karena bagaimanapun tim memiliki fasilitas dan kesiapan yang lebih
lengkap dan lebih memadai.
Dia juga berkata kepada ayah, “Saudaraku
Abdushshamad, setelah kita sampai di tanah suci, anda dapat bergabung
dengan rombongan tersebut, atau anda dapat mengunjungi siapa saja yang
anda inginkan dalam kafilah itu. kita fleksibel saja, anda tidak selalu
harus terikat dengan kami.”
Akhirnya ayah saya Abdushshamad memutuskan
bergabung dengan tim kesehatan kerajaan Kuwait. Jika telah sampai di
sana ia akan bergabung dengan rombongan Syi’ah Rafidhah tersebut untuk
melaksanakan manasik haji ala mereka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menakdirkan rombongan tim
kesehatan tersebut menginap di Madinah an-Nabawiyah selama beberapa hari
sebelum menuju ke Makkah al-Mukarramah, bertepatan dengan sampainya
rombongan Rafidhah ke sana. H. Abdushshamad meminta izin dari pimpinan
tim untuk bergabung dengan kafilah Rafidhah. Ketika sampai di sana
mereka sedang bersiap-siap untuk menzirahi kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
di Masjid an-Nabawiy dengan jalan kaki. Pimpinan rombongan, seorang
sayid mu’ammim, berdiri di tengah mereka seraya berkata, “Sekarang, kita
semua akan menziarahi kuburan Rasul yang paling agung….”
Dalam perjalanan, sayid berkata, “Saya akan berdoa di sisi kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
kalian semua ikutilah doa yang saya baca!”.
Ayah saya, Abdushshamad,
berkata, “Saya pun memasuki masjid an-Nabawiy dan merasa gemetar karena
kewibawaan dan keagungannya. Ayah berjalan bersama anggota rombongan,
sayid mu’ammim berada di depan kami. Rombongan berhenti di sisi kuburan
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia, kemudian berdo’a menirukan sayid.”
Ayah melanjutkan, “Saat kami berdiri di sisi kuburan Nabi, tiba-tiba
seorang laki-laki tua Saudi berdiri tidak jauh dariku sehingga saya
dapat mendengarkan ucapan salamnya kepada al-Mushthafa shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Salam sejahtera untuk anda wahai Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam, semoga rahmat dan berkah Allah Subhanahu wa Ta’ala terlimpah kepada Anda. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan
imbalan kepada anda atas kebaikan dan jasa-jasa Anda kepada umat;
semoga Dia melipat gandakan kebaikan bagi Anda, berbuat baik kepada Anda
sebagaimana Anda telah berbuat baik kepada umat ini. Saya bersaksi
bahwa anda telah menyampaikan risalah, telah menunaikan amanah, telah
menasihati umat dan telah bersungguh-sungguh menyampaikan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ya Allah Ya Rabb berikanlah kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,
al-Wasilah dan karunia, bangkitkanlah beliau kelak dengan kedudukan
yang terpuji, sebagaimana yang telah Engkau janjikan, sesungguhnya
Engkau tidak akan mengingkari janji.’ Saya pun kagum dengan adab dan
ketenangan orang tua itu dalam berdoa.”
Ayah melanjutkan ceritanya, “Yang mengejutkan ialah saat orang tua itu melihat dan menoleh ke kanan kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
saya mendengar dia berkata, ‘Salam sejahtera kepadamu wahai Abu Bakar
Ash-Shiddiq, semoga rahmat dan berkah Allah tercurah kepadamu, semoga
Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhaimu wahai Abu Bakar, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan imbalan kebaikan atas jasa-jasa anda kepada umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.’
Saya pun terkejut mendengarkan ucapannya dan semakin heran ketika laki-laki tua itu menoleh ke arah kiri kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata, ‘Salam sejahtera untuk anda wahai Umar bin al-Khaththab, semoga rahmat dan berkah Allah Subhanahu wa Ta’ala tercurah kepada anda, semoga Allah meridhai anda wahai Umar, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi imbalan atas jasa anda kepada umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam’.”
Ayah saya, Abdushshamad berkata, “Saya tidak bisa menahan diri, saya
pun memegang pundak laki-laki tua itu sambil berkata kepadanya, ‘Apakah
anda berziarah ke kuburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau ke keburan Abu Bakar dan Umar hingga anda mengucapkan salam kepada keduanya di sini?!’
Lelaki tua itu menjawab, ‘Saudaraku, bagaimana aku tidak mengucapkan
salam kepada keduanya, sementara di hadapanku ini kuburan keduanya?! Ini
kuburan Abu Bakar dan ini kuburan Umar radhiyallahu anhuma’.
Dengan suara yang mulai meninggi saya menanggapi perkataannya, ‘Saya
tidak pernah tahu bahwa kedua orang yang selalu kami caci pada pagi dan
sore hari dalam majelis Husainiyyah, terbaring di sisi kuburan Nabi kita
Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?!’.
Kami menyebut mereka berhala dan thagut, seperti yang kami terima
dari para sayid dan pemuka kami. Bagaimana mungkin musuh-musuh Islam,
musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dikubur di satu tempat bersama dengan penghulu para nabi dan seluruh manusia?!
Saya berkata kepada laki-laki tua itu, ‘Apakah anda bergurau? Apa yang anda katakan ini pak tua?’
Orang-orang pun mulai mendengarkan ucapan saya karena tanpa sadar
suara saya telah meninggi, sementara lelaki tua itu terheran-heran
dengan penolakan keras yang saya lontarkan terhadap apa yang telah dia
katakan bahwa di sini juga terdapat kuburan Abu Bakar dan kuburan Umar radhiyallahu ‘anhuma.
Berikutnya saya segera mendatangi sayid kami. Saat itu dia berdiri di
tengah domba-domba yang hilang, para anggota rombongan. Saya berkata
kepadanya dengan suara tinggi, ‘Sayid kami, wahai sayid kami,
dengarkanlah apa yang dikatakan oleh laki-laki ini, dia berkata bahwa
Abu Bakar dan Umar juga dikubur di sini.’
Sayid Mu’ammim itu pun berkata kepada saya, ‘Benar, Abdushshamad,
benar, Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar al-Faruq juga dikubur di sini.’
Saya spontan berteriak di tengah orang ramai menolak jawabannya, ‘Apa
yang anda katakan ini? Ash-Shiddiq? Al-Faruq? Bukankah mereka itu
berhala dan thagut, yang kalian ajarkan kepada kami, musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya?! Mengapa salah seorang digelari Shiddiq dan yang lain Faruq? Pahamkanlah saya wahai sayid kami!’
Sayapun melihat as-Sayyid memberikan isyarat dengan mata sambil
berkata,‘Abdushshamad, jangan membuat malu kita di tengah orang ramai,
jika telah kembali ke penginapan, saya menjelaskan segala sesuatunya
kepada Anda.’
Dengan suara yang semakin tinggi disertai orang yang semakin
berkerumun saya justru membantah, ‘Tidak… tidak…. tidak…. Demi Allah,
saya tidak akan meninggalkan tempat ini sampai Anda memahamkan saya
sekarang juga, bagaimana berhala dan thagut dikubur di sisi Rasulullah?
Bagaimana kaum Muslimin menerima situasi ini? Bagaimana Sayiduna Ali bin
Abi Thalib membiarkannya? Bagaimana Ahlulbait menerima orang-orang
kafir dikubur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?
Bukankah Abu Bakar telah merampas hak Fathimah seperti apa yang telah
kalian ajarakan kepada kami? Bukankah Umar telah mematahkan tulang rusuk
Fathimah az-Zahra’ seperti yang kami hafal dari kalian? Bagaimana
Ahlulbait menerima orang-orang kafir itu dikubur bersama Rasulullah?’
Sayid berkata, ‘Abdushshamad, Daulah Umawiyah, merekalah yang tekah menguburkan mereka di tempat ini!’
Saya pun mengatakan, ‘Sayid!…..sekalipun saya ummi, tidak bisa baca tulis, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala
telah memberikan akal yang sempurna… bagaimana Daulah Umawiyah yang
menguburkan mereka padahal mereka baru berkuasa setelah sayid kita,
Ali?, sementara sayiduna Ali dan Abbas meninggal setelah Abu Bakar dan
Umar? Anda sendiri telah mengatakan bahwa Sayyiduna Ali adalah Haidar
(sang singa) dan al-Karar, dan tidak gentar menghadapi tekanan siapa pun
dalam membela agama Allah Subhanahu wa Ta’ala?! Bagaimana mungkin beliau dan ahlulbait mengizinkan dua orang kafir ini dikubur bersandingan dengan penghulu para nabi?!’
Orang-orang pun berhamburan ke arah kami, sayid tersebut melarikan
diri diiringi domba-dombanya yang tersesat meninggalkan area kuburan.
Dengan suara lantang saya berteriak, ‘Hai orang-orang ramai pahamkanlah
kepada saya, apakah saya ini sedang bermimpi atau apa?!’
Orang-orang itu
pun berusaha menenangkan saya, mereka berkata, ‘Berdzikirlah, ingatlah
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala wahai Syaikh…. Berdzikirlah mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala!’
Sejenak kemudian seorang Masyayikh di al-Haram menghampiri dan
memegang saya sambil berkata, ‘Ada apa dengan anda? Anda
berteriak-teriak di sisi kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ini tidak boleh…. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk merendahkan suara kita jika berada di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melalui firman-Nya (yang artinya):,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan
suaramu melebihi suara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan janganlah
kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya
suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus
(pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. Sesungguhnya orang
yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam mereka Itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh
Allah untuk bertakwa. bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS.
Al-Hujurat: 2-3)’.”
Ayahku, H. Abdushshamad melanjutkan ceritanya,
Ayah tidak dapat menguasai diri, meratap dan menangis. Kemudian Syekh
tersebut kembali berkata, ‘Ada apa dengan Anda, saudaraku? Apa yang
telah terjadi?’
Ayah menjawab, ‘Anda mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk merendahkan suara ketika berada di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam supaya kita tidak menyakiti beliau, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji
kita melalui perintah ini… sementara saya, sejak kecil sampai saat ini
tidak berhenti mencaci sahabat-sahabat beliau, tidak pernah berhenti
mencaci istri-istri beliau! Jika dengan meninggikan suara saja telah
menghapuskan amal-amal dan menyia-nyiakannya, seperti dalam ayat
tersebut, bagaimana halnya dengan orang yang mencela sahabat-sahabat dan
istri-istri Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam sepenjang hayatnya?’
Maka berkatalah Syeikh tersebut, ‘Aku berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala … Anda mencaci sahabat-sahabat beliau, dan istri-istri beliau, ummahatul mukminin? Apakah anda seorang Rafidhah?!’
Ayah menjawab, ‘Betul, saya seorang penganut Rafidhah, saya adalah
sampah… saya…!!! Sekarang saya tahu bahwa saya telah tersesat! Saya
telah disesatkan, saya betul-betul telah tertipu. Demi Allah Subhanahu wa Ta’ala! Demi Allah Subhanahu wa Ta’ala! Saya tidak pernah tahu bahwa Abu Bakar dan Umar dikuburkan di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di tempat yang sama. Tuan Syeikh jelaskanlah kepada saya, apakah Allah telah menipu Nabi-Nya? Apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkhianati Nabi-Nya? Apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memuliakan nabi-Nya di kuburnya?!! Bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala membiarkan orang-orang kafir dan musuh-musuh-Nya dan musuh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam
dikuburkan bersisian dengan pusara Nabi?! Mengapa?! Mengapa Sayyiduna
Ali bin Abi Thalib dan ahlulbait tidak mampu melarang penguburan
keduanya di sisi beliau? Bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala membiarkan
orang-orang kafir dikuburkan bersama Sayiduna Muhammad, di tempat yang
paling diagungkan di permukaan bumi, di Raudhah yang mulia, hingga hari
kiamat?! Mengapa?! Berilah saya jawaban!
Betulkah mereka yang telah mengajari kami mencaci dua orang laki-laki ini orang-orang muslim atau para penjahat?!
Demi Allah sekarang saya mengerti, hanya dua kemungkinannya: bisa jadi Allah Subhanahu wa Ta’ala teledor menyia-nyiakan hak Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, wal ‘iyadzu billah, atau sayyid-sayyid kami dan mu’ammim kami yang mengkhianati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya!!!’
Syekh tersebut berkata kepada Ayah, ‘Saudaraku Abdushshamad, Abu
Bakar Ash-Shiddiq dan Umar Al-Faruq bukan hanya dikuburkan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di satu lokasi, mereka bahkan adalah sanak keluarga beliau: putri-putri mereka, Aisyah dan Hafshah radhiyallahu anhuma merupakan istri-istri beliau, ibunda kaum Mukminin berdasarkan nash al-Qur’an.
Ayah berkata, ‘Ya Allah Ya Rabb, laknatlah sayid-sayid kami! Ya Allah
Ya Rabb laknatlah para mu’ammim kami! Ya Allah, laknatlah sayid-sayid
kami! Ya Allah Ya Rabb, laknatlah para mu’ammim kami! Jika benar yang
mereka katakan berarti Allah Subhanahu wa Ta’ala telah
menikahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dengan wanita-wanita
kafir dan keji, kemudian menguburkan beliau bersama ayah-ayah mereka
yang kafir?! Bagaimana akal sehat bisa membenarkan ucapan ini?! Saya pun
menangis tersedu-sedan.’
Syekh tersebut meraih dan merengkuh ayah dan
berkata, ‘Alhamdulillah, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah
menghilangkan selaput yang menutup kedua bola mata anda. Marilah saya
ajarkan kepada anda berwudhu dan shalat seperti yang diamalkan
Rasulullah…’
Laki-laki itu pun menuntun saya keluar dari tengah kerumunan manusia,
lalu kami menuju ke tempat khusus yang diperuntukkan untuk air zam-zam.
Dia berkata, ‘Berwudhulah bersama saya seperti ini…’
Ayah pun berwudhu mengikutinya. ‘Demi Allah Subhanahu wa Ta’ala,
begitu selesai, ayah merasakan betapa lapangnya dada ini, seolah-olah
baru tahu bahwa Tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala.’
Setelah selesai ayah keluar dari Masjid Nabawy asy-Syarif, begitu
sampai ke tempat tim kesehatan dan melihat pimpinan rombongan, Ibrahmi
al-Mudhaf yang sunni, ayah pun merangkulnya sambil menangis haru.
Ayah
berkata kepadanya, ‘Ibrahim al-Mudhaf, saudaraku, mulai saat ini saya
tidak akan lagi mengatakan bahwa Allah telah menghinakan Rasul dan
kekasihnya shallallahu ‘alaihi wasallam. Sejak saat ini saya
berlepas diri dari menghina ahlulbait, mereka lebih mulia dan lebih
terhormat untuk menjadi pengecut yang takut memperjuangkan ucapan yang
haq. Sejak saat ini, saya berlepas diri dari fitnah yang menodai
kehormatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, istri-istri
beliau yang suci, yaitu ibunda kaum Mukminin sebagaimana yang telah
dijelaskan oleh nash al-Qur’an yang mulia. Mulai detik ini, saya tidak
akan lagi mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan
menyebut beliau gagal dan tidak mengerti mendidik sahabat-sahabat
bagaimana seharusnya bersikap sepeninggal beliau. Mulai saat ini, saya
berlepas diri dari perilaku orang-orang Rafidhah, meniru orang-orang
Yahudi mencela Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.’
Ayah pulang ke Kuwait dengan raut wajah yang berbeda dari saat
berangkat. Beliau kembali dengan keimanan yang memenuhi hatinya. Dia
kembali membawa ketenangan yang melapangkan dadanya. Dia kembali dengan
cahaya pemahaman yang telah membebaskan akalnya dari kegelapan
kebodohan, penyimpangan dan kesesatan.
Ayah segera menemui ibu, Ummu Hamid rahimahallah dan berkata kepada
beliau, ‘Istriku sesungguhnya aku telah masuk Islam yang lain dari Islam
yang telah menipu kita selama bertahun-tahun… saya telah masuk Islam,
yang tidak ada kedustaan di dalamnya, tidak ada penipuan, kedengkian,
kesyirikan, bid’ah, cacian dan kesesatan yang nyata… Jika engkau
mengikuti langkahku, engkau tetaplah istriku. Jika tidak, kembalilah
kepada keluargamu!
Ibu pun berkata, ‘Demi Allah Subhanahu wa Ta’ala, aku tidak
pernah mendapatkan pada dirimu selain cinta kepada kebaikan, aku tidak
memiliki prasangka selain bahwa Allah telah memberikan taufik kepadamu,
kepada suatu kebaikan yang besar. Aku akan selalu bersamamu; sekarang
aku adalah muslimah sunni yang mengesakan Allah rabbul ‘alamin, aku
berlindung kepada Allah dari perbuatan mempersekutukan-Nya apa dan siapa
pun’
Waktu pun berlalu berbilang tahun. Ibu, Ummu Hamid, melahirkan bayi
laki-laki yang diberi nama Umar oleh ayah (orang-orang Syiah sangat
membenci sahabat-sahabat, khususnya Abu Bakar, Umar dan Utsman. Dengan
memberikan salah satu nama tersebut kepada anak bagi mereka menjadi
salah satu tanda bahwa yang bersangkutan bukan penganut Syiah). Umar
putra keempat ayah setelah saya (Hamid), Mahmud dan Adil.
Ayah
menghadapi penentangan yang keras dari tetangga-tetangga kami yang
Rafidhi begitu mengetahui bahwa beliau telah meninggalkan agama mereka.
Mereka melarang anak-anak mereka bergaul dan bermain dengan kami,
anak-anak ayah, melarang istri-istri mereka mengunjungi ibu. Tetapi ayah
mengahadapinya dengan penuh sabar dan tidak putus berdoa kepada Allah
meminta jalan keluar.
Hanya berapa tahun kemudian, Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan
rezki yang tidak disangka-sangka, ayah memboyong kami pindah dari
lingkungan Rafidhah tempat tinggal kami semula, ke distrik lain. Di
sanalah ayah menghembuskan nafasnya yang terakhir, berpulang ke
rahmatullah, mewariskan kepada kami sebuah agama yang haq.
Hal yang mengagumkan kemudian terjadi dalam kisah ini, banyak jamaah
masjid dan keluarga beliau bermimpi melihatnya dalam kondisi yang sangat
baik, masing-masing mereka melihat beliau memakai baju yang sangat
putih bersih, duduk-duduk di sebuah tempat duduk yang bagus, pada tempat
yang mulia sambil berkata, “Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan hidayah ini kepada kami; kita tidak akan mendapatkan petunjuk seandainya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberikan petunjuk kepada kita.”
Demikian Abu Utsman Hamid Busyahri menutup kisah sadarnya orang tua beliau.
Ya Allah, Ya Rabb terimalah dia, Abdushshamad
Mahmud Busyahri, dan tempatkan beliau di tengah orang-orang shalih, dan
pertemukanlah dia dengan para shiddiqin dan syuhada dan mereka adalah
sebaik-baik teman… dan berikanlah petunjuk kepada kaumku, sesungguhnya
mereka tidak mengetahui, amin…amin ya Rabb’ al-‘Alamin.
Menutup kisah ini, saya sampaikan kepada setiap orang Rafidhah,
tahukah anda semua, mengapa Abdushshamad diberi hidayah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada
kebenaran?
Karena satu sebab yang sangat sederhana, karena dia membuka
diri untuk memfungsikan akalnya.
Oleh karena itu, kapankah anda semua
meniru tindakan beliau? Adalah sebuah aib besar jika seorang yang ummi,
tidak bisa baca-tulis seperti Abdushshamad Busyahri rahimahullah mampu
memfungsikan akalnya dengan baik, sementara kalian membiarkan akal
kalian dikendalikan orang lain. Sehingga mereka bisa memperlakukan
kalian sesuka hati mereka.
Sumber: Majalah Islam Internasional Qiblati, Ramadhan 1433 H, Agustus 2012 M, Edisi 10 th. VII, hal 84-89.
KISAH IV
ULAMA SYI'AH TAUBAT DAN KEMBALI KEPADA ISLAM SUNNI
19 Maret 2014, jam 9 Waktu Mekkah Al-Mukarramah, Penganut agama syiah
imamiyah itsna ‘asyariyah / ja’fariyah Timur Tengah, digemparkan oleh TV
Wesal Arab Saudi yang menyajikan salah satu acara “terpanas” yang pasti
membuat kuping kaum syiah dan para ulama mereka memerah.
Pasalnya, tamu dalam acara tersebut adalah salah seorang mantan
ayatollah syiah, ulama hadis, fiqh dan ushul agama syiah sekaligus
sebagai marja’ (ulama rujukan tertinggi) dalam komunitas syiah, yang
kini berwajah sebagai seorang ulama sunni yang sangat handal.
Malam itu ia
muncul untuk pertama kalinya secara resmi sebagai seorang ulama sunni, setelah sebelumnya ia kerap muncul sebagai ulama syiah yang berserban
hitam ala syiah.
Ini merupakan taqdir yang sangat luar biasa, sebab seorang marja’
dalam agama syiah adalah ulama tertinggi, semua fatwa dan ucapannya
diamalkan laksana wahyu, dan tak perlu ditanya tentang dalil dari semua
fatwanya. Derajat Marja’ ini, lebih tinggi dari derajat keulamaan
lainnya dalam agama syiah, hatta derajat ulama mujtahid muthlaq ataupun
presiden.
Biasanya kalau sudah menjadi marja’ ; uang jutaan dolar dari hasil
“khumus” (baca ; uang haram) akan memenuhi rekening banknya di Swiss, Jerman, Prancis atau Negara Eropa lainnya. Sebab semua uang khumus-nya
kaum syiah, penempatannya diatur oleh seorang marja’ sekehendaknya.
Dengan segala kekayaan dan tingginya derajat keulamaan ini, ternyata
mantan marja’ syiah ini; Syaikh Al’Allaamah Abu ‘Ali Husain Al-Muayyid
hafidzhahullah, meninggalkan pangkat tersebut dan lebih memilih untuk
menyelamatkan keyakinannya.
Baginya pangkat, harta dan kedudukan tinggi
tidak berarti jika aqidah dan keyakinannya tidak memiliki dasar dan
pondasi yang benar dan abash. Inilah sebabnya, ia “melarikan diri” dari
semua harta dan pangkat dunia demi meraih cahaya iman dalam bingkai
mazhab ahli sunnah waljama’ah.
Tidak tanggung-tanggung, ia rela meninggalkan semua kerabatnya,
orangtuanya yang merupakan salah satu pemuka syiah dari keturunan marga
Al-Kaadzhimiyah (marga tertinggi syiah) ia tinggalkan, demikian juga
semua anaknya, dan istrinya, ia tinggalkan sebab mereka semua tidak
menyetujui berpindahnya beliau ke mazhab sunni.
Ibu beliau; anak salah satu marja’ syiah; ayatullah sayid hasan
shadar. Sedangkan istrinya ; saudari dari dai syiah populer, Ammaar
Al-Hakim.
Ketika istrinya mengetahui ia telah masuk dalam mazhab sunni, ia
meminta cerai dan berkata pada beliau; “Saya tidak akan pernah rela
hidup menjadi istri seorang suami yang mendoakan keridhaan terhadap
Aisyah”
Mendengar itu, iapun menjawab; “Demikian juga aku, tidak mungkin bisa
hidup dengan seorang istri yang selalu saja mencaci maki ibundaku,
Aisyah radhiyallaahu’anha”.
Karena khawatir ditangkap atau dibunuh oleh otoritas dan rezim Iraq
dan Iran, beliaupun melarikan diri ke Yordania, lalu pindah ke Libanon,
dan sekarang telah hidup di Jeddah, Arab Saudi. Ia mendapatkan suaka dan
keamanan di Arab Saudi, dan sekarang beliau menjadi salah satu ulama
yang ditugaskan di Rabithah Al-‘Aalam Al-Islamiy di Jeddah.
Malam itu, di Wesal TV beliau mengisahkan perjalanan hidupnya, dari
kecil, sewaktu menuntut ilmu di Hawzah Nejf, dan Qum, hingga menjadi
ulama rujukan (marja’) syiah di Iran dan Iraq secara khusus, dan di
dunia secara umum.
Keterangan Foto :- Foto dengan jubah hitam dan serban hitam; sewaktu beliau masih menjabat sebagai ayatullah syiah
- Foto dengan jubah putih dan ghutrah; setelah beliau bertaubat dan kembali ke pangkuan Islam
Simak juga keterangan beliau di Wesal TV, beliau menceritakan kisah
hidupnya sejak dari kecil tumbuh di keluarga Syiah, lalu menjadi ulama
rujukan Syiah, dan bertaubat memeluk agama Islam yang murni.
*****
Subhanakallohumma wa bihamdihi,
Asyhadu an laa ilaaha illa anta, wa astaghfiruka wa atuubu ilaika
Wa akhiru da'wana, walhamdulillahirobbil 'alamiin